SAMPIT – Di tengah tantangan tenaga terbatas dan medan yang tak mudah dijangkau, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur terus memacu pembentukan Koperasi Merah Putih hingga ke pelosok desa.
Plt Kepala Dinas KUKMPP Kotim, Johny Tangkere, bahkan harus turun langsung mengontak camat hingga mengerahkan seluruh pejabat fungsional untuk mendampingi proses musyawarah desa.
“Progres kita terakhir 26 persen. Yang sudah punya akta notaris ada 20 lebih. Tapi yang kita kejar sekarang itu musyawarah desa khusus, karena batas waktunya sampai 31 Mei,” ucap Johny dengan nada tegas, Senin 26 Mei 2025.
Johny menyebut, ada tiga kecamatan yang progresnya masih lambat: Seranau, Mentaya Hilir Selatan, dan Teluk Sampit. Ia memastikan tak tinggal diam. Koordinasi intensif dilakukan agar semua desa bergerak cepat, sebab setelah musyawarah, koperasi harus didaftarkan dan mengantongi akta notaris paling lambat 12 Juni.
“Staf kami kewalahan karena permintaan pendampingan terlalu banyak. Maka saya tugaskan semua pejabat, termasuk kepala bidang, untuk turun langsung bantu desa,” terangnya.
Namun, bukan hanya soal waktu dan tenaga. Warga desa juga dihadapkan pada kesulitan teknis dalam memilih jenis usaha dan memahami klasifikasi usaha (KBLI).
“Bukunya tebal. Masyarakat bingung harus pilih yang mana. Belum lagi menyesuaikan dengan potensi desa,” katanya.
Di balik tantangan itu, Johny menyimpan harapan besar. Koperasi Merah Putih ini bukan sekadar formalitas. Dana bergulir yang disiapkan pemerintah bisa mendorong geliat ekonomi desa jika dijalankan dengan serius dan inovatif.
“Awalnya memang fokus ke simpan pinjam dan sembako. Tapi bisa dikembangkan seperti daerah lain, ada usaha percetakan, servis motor, dan lainnya. Yang penting ada rencana usaha yang jelas dan koperasi aktif,” jelasnya.
Saat ini, Pemkab Kotim telah menunjuk tujuh notaris yang siap membantu, bahkan bersedia bekerja meski pembayarannya baru bisa dianggarkan dalam APBD Perubahan.
“Ya, kita berutang dulu ke notaris. Tapi mereka siap bantu. Ini demi percepatan,” ujarnya.
Dari total 300 lebih koperasi yang tercatat di Kotim, Johny menyadari banyak yang tidak aktif. Sebagian hanya menunggu, tidak melakukan inovasi. Namun ada pula yang berjalan baik dan bahkan berkembang.
“Kami masih pelajari cara pembinaan yang paling pas. Tapi yang jelas, koperasi harus hidup, bukan sekadar nama,” tegas Johny.
Dengan semangat itu, Johny dan timnya tak ingin menyia-nyiakan momentum. 28 Oktober nanti, Presiden dijadwalkan mencanangkan operasional koperasi secara nasional. Di Kotim, mereka bekerja keras agar semuanya siap lebih awal.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post