SAMPIT – Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, angkat bicara terkait kepercayaan masyarakat mengenai keberadaan buaya dampingan atau buaya kembaran yang dipercaya tidak akan menyerang pemiliknya.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan semacam itu memang berkembang luas di berbagai daerah, namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.
“Terkait kepercayaan buaya dampingan ini, kita ambil contoh mistik. Dan yang kami ketahui, terkait buaya dampingan itu memang ada, dan bukan hanya di wilayah Kalimantan Tengah. Kami pernah ke NTT, malah di sana lebih parah. Ada patung-patung buaya, hidungnya menghadap ke laut, dibakar dupa dulu, disembah, minta keselamatan,”bebernya, Rabu 23 April 2025.
Lanjutnya, sementara kalau di Kalimantan ini biasanya kepercayaannya soal kembaran. Hal-hal seperti menurutnya nyata kepercayaan warga, seperti kejadian di Kelurahan Mentaya Seberang, ada warga yang mengaku buaya yang muncul itu peliharaannya, jadi tidak akan menyerang.
Namun demikian, ia menegaskan tidak ada jaminan bahwa buaya yang dianggap “dampingan” atau kembaran itu benar-benar jinak.
“Kami minta tetap hati-hati. Tidak ada jaminan buaya yang muncul tadi itu berasal dari hal-hal mistik atau biasa disebut kodam. Kami tidak mengabaikan kepercayaan masyarakat, tapi utamanya kita harus rasional. Sudah tahu ada buaya, ya jangan mandi di sungai. Kami tetap mengimbau masyarakat agar waspada,”tegasnya.
Walaupun merasa memiliki kembaran atau peliharaan tambahnya, BKSDA menyarankan tetap berhati-hati. Jangan sampai karena merasa aman, justru lengah dan jadi korban.
Muriansyah mengakui bahwa kepercayaan semacam itu menjadi salah satu tantangan dalam menyosialisasikan bahaya buaya kepada masyarakat.
“Tapi memang tidak bisa kita hilangkan. Karena itu, kami berusaha lebih mengedepankan edukasi, memberikan penjelasan yang logis kepada masyarakat tentang penyebab kemunculan buaya,” katanya.
Ia juga menjelaskan secara ilmiah mengapa buaya datang ketika ada suara dayung atau benda lain dipukul di atas air.
“Selama ini, kenapa buaya datang saat orang memukul air dengan dayung atau tangan? Karena di tubuh buaya itu terdapat titik-titik sensor yang peka terhadap getaran dan pergerakan air. Jadi kalau kita berada di satu titik dan buaya di ujung sungai, lalu kita memukul air, buaya akan datang, bukan karena mistik, tapi karena dia merespon bunyi dan getaran,” jelasnya.
Muriansyah juga mengimbau kepada para petugas penyelamatan seperti Basarnas, BPBD, dan Manggala Agni agar lebih memperhatikan keselamatan diri saat melakukan operasi di perairan, khususnya di Sungai Mentaya yang merupakan habitat buaya.
“Kami juga ingin mengingatkan petugas penyelamat, ketika melakukan evakuasi korban di perairan, agar tetap memperhatikan keselamatan. Karena selain faktor orang hilang, ada juga ancaman predator buaya di sungai,” ujarnya.
Ia memberikan beberapa saran penting untuk petugas di lapangan. Misalnya, jika menggunakan perahu karet, usahakan kaki jangan sampai turun ke air. Kalau bertemu buaya, jangan panik, jangan menimbulkan suara atau gerakan yang menarik perhatian.
“Tenang, segera menjauh, dan biarkan buaya tetap di tempatnya. Kita yang harus mengalah,” imbaunya.
Muriansyah menegaskan bahwa pengenalan terhadap perilaku buaya sangat penting, terutama bagi petugas yang bekerja di wilayah-wilayah rawan.
“Edukasi tentang hewan predator seperti buaya sangat penting. Kemarin saat di kejadian orang hilang di Teluk Sampit, fokus petugas lebih kepada korban hilang, padahal di situ juga ada ancaman serangan buaya. Jadi kami ingin berbagi pengalaman agar ke depan keselamatan petugas juga lebih terjamin,” tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post