SAMPIT – Plt Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan dan Pasar Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Fahrujiansyah menyampaikan, Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir sempat mengalami deflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 0,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,41.
Deflasi y-on-y terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Tingkat deflasi month-to-month (m-to-m) Sampit Februari sebesar 0.63 persen dan tingkat deflasi year-to-date (y-to-d) Sampit Februari 2025 sebesar 1.36 persen.
“Dua hari terakhir kita sempat mengalami deflasi namun berdasarkan paparan dari Badan Pusat Statistik saat ini sudah mulai membaik. Hal ini bukan karena disebabkan menurunnya daya beli masyarakat nabur karena harga yang anjlok lantaran tidak teraturnya pasokan barang,”ujarnya, Rabu 26 Maret 2025.
Ketidakteraturan itu menurutnya disebabkan kondisi sungai mentaya yang mana jika mengalami pendangkalan kapal tidak akan bisa masuk ke pelabuhan sehingga hanya berhenti di Muara dan akan dilangsir menggunakan kapal-kapal kecil menuju Kota Sampit, hal itu bisa berlangsung 6 hingga 7 jam lamanya.
“Untuk saat ini berkaitan dengan daya beli masyarakat malah meningkat terutama menjelang Idulfitri ini. Meskipun beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan namun kenaikan itu tidak terlalu signifikan dan masih terjangkau,”bebernya.
Yaitu, kenaikan dialami pada komoditi ayam potong dan telur serta daging sapi. Untuk harga ayam potong yang semula sempat anjlok hingga Rp28 ribu per kg kini naik menjadi Rp30 hingga Rp31 ribu per kg.
Sementara untuk harga telur yang semulanya Rp55 ribu per sap kini naik menjadi Rp56 ribu hingga Rp57 ribu per sap. Ya mana telur ayam ada dua jenis yaitu dari pasokan luar daerah pulau Jawa dan telur ayam lokal.
“Untuk pasangan dari lokal masih stabil namun memang belum bisa memenuhi kebutuhan kita khususnya di Kota Sampit sehingga masih perlu pasokan dari luar daerah. Sementara untuk harga daging sapi sekarang berkisar Rp140 hingga Rp 145 per kg,”ucapnya.
Dijelaskannya, kondisi deflasi suatu daerah biasanya dikaitkan pada lebahnya perekonomian daerah serta berurusan daya beli masyarakat. Namun deflasi yang dialami di Kabupaten Kotim saat ini karena alokasi barang terlalu banyak.
“Yang mana seharusnya antara supply dan demand itu harus seimbang. Untuk menjaga kestabilan pasokan ini kami dari pemerintah Kabupaten kerap kali melakukan stabilitas pasokan, rantai pasok dan melihat ketersediaan pada distributor,”kata Fahrujiansyah.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post