SAMPIT – Kepala BPS Kotawaringin Timur Eddy Surahman menyampaikan, Kotim sempat mengalami deflasi pada awal tahun sehingga dikhawatirkan daya beli masyarakat lesu atau menurun.
Hal itu didapatkan dari penghitungan inflasi yang dilakukan setiap tahun untuk mengukur perkembangan perekonomian dan perkembangan harga di Kabupaten Kotim dan Kalimantan Tengah secara keseluruhan.
“Secara keseluruh Alhamdulillah di tahun 2024 ini gejolak inflasi kita relatif stabil dan ini jauh lebih rendah daripada di 2024 walaupun sebenarnya perlu kami sampaikan di awal-awal tahun itu kami khawatir, karena inflasinya rendah dan beberapa bulan itu justru mengalami deflasi,”ujarnya, Senin 16 Desember 2024.
Karena inflasi rendah bisa terjadi deflasi yang menjadi salah satu indikator bahwa terjadi penurunan daya beli masyarakat. Meski, angkanya masih variatif dan cukup rendah, namun kecenderungan inflasi masih ada.
“Perlu kami sampaikan bahwasanya inflasi rendah itu pun tidak harus serta-merta kita bergembira, karena salah satunya tadi menjadi indikasi dari lesunya perekonomian kita. Namun demikian Saya cukup optimis dengan perhitungan inflasi kami di tahun 2024 ini harga relatif stabil,”bebernya.
Menurutnya, di 2024 per Desember yang akan rilis di bulan Januari biasanya akan terjadi inflasi. Namun hal ini merupakan hal yang wajar sehubungan dengan peringatan hari besar keagamaan yang biasanya membuat daya beli masyarakat meningkat. Dan secara psikologis juga akan mempengaruhi perkembangan harga yang terjadi di pasar.
“Dalam beberapa tahun terakhir beberapa komoditas sering menjadi penyumbang inflasi dari 5 tahun terakhir yang kami ambil datanya yang terjadi di Desember, biasanya kenaikan terjadi beberapa komoditas itu seperti beras dan minyak goreng,”ungkapnya.
Selain itu, beras, bawang merah dan daging ayam yang selalu muncul yang menjadi tiga besar penyebab inflasi.
“Perkembangan inflasi kita yang berjalan selama tahun 2023 dan 2024 ini saya kira tidak perlu ada banyak yang kita khawatirkan, karena melihat perkembangan harga relatif stabil. Kenaikan itu juga tidak terlalu banyak dan menggambarkan bahwa ekonomi sedang berjalan,”tegasnya.
Dijelaskannya, pada 2023 lalu inflasi bergelut pada harga beras karena selama 8 bulan mengalami kenaikan secara terus menerus. Sementara 2024 ini inflasi diperkirakan disumbang lebih banyak oleh daging ayam ras.
“Bahkan harga ayam ini terus naik sejak Idul Fitri hingga Idul Adha. Dan ssmpat turun, namun sekarang kembali naik,”tutupnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post