PALANGKA RAYA – Kabupaten Murung Raya kembali menorehkan prestasi dalam cabang permainan rakyat Sepak Sawut pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026, Rabu 20 Mei 2026 malam. Kemenangan tersebut menambah koleksi gelar Murung Raya setelah sebelumnya juga berhasil menjadi juara pada tahun 2023 dan 2025.
Kemenangan tim Murung Raya disambut antusias para pendukung yang memadati arena pertandingan di halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah. Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph, yang hadir langsung menyaksikan pertandingan final menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam perlombaan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Murung Raya, saya mengucapkan apresiasi yang luar biasa kepada dewan juri, panitia, dan seluruh atlet yang ikut dalam lomba sepak sawut ini,” ujarnya usai pertandingan. Heriyus mengatakan, dirinya melihat seluruh atlet menjunjung tinggi sportivitas sepanjang pertandingan berlangsung. Menurutnya, kemenangan bukan menjadi hal utama dalam perlombaan tradisional tersebut.
“Soal juara satu, dua, atau tiga itu nomor dua. Yang penting kita semua bersahabat. Inilah ajang silaturahmi kita dalam Isen Mulang ini,” katanya. Ia juga berharap seluruh atlet tetap menjaga semangat kebersamaan dan sportivitas dalam setiap pertandingan. “Namanya permainan pasti ada yang menang dan ada yang kalah, itu hal biasa. Tapi yang paling penting semua atlet menjunjung tinggi sportivitas,” tegasnya.
Terkait kemungkinan adanya hadiah khusus dari Pemerintah Kabupaten Murung Raya bagi para pemain, Heriyus mengaku telah menyiapkan bentuk apresiasi tersendiri. “Kalau dari kabupaten atau pemerintah daerah, itu rahasia kami. Tetapi tentu kami mempunyai ucapan terima kasih kepada mereka,” ucapnya sambil tersenyum.
Saat ditanya mengenai rahasia keberhasilan Murung Raya yang beberapa kali menjadi juara Sepak Sawut, Heriyus menilai kekompakan dan kebersamaan menjadi faktor utama. “Yang paling penting itu semangat, kebersamaan, dan kekompakan. Itu dulu kuncinya,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah terus memberikan dukungan penuh terhadap para atlet Sepak Sawut Murung Raya, termasuk selama masa persiapan menjelang perlombaan. “Mereka sudah beberapa hari latihan di sana. Karena saya tahu malam hari ini ada lomba sepak sawut, saya hadir langsung untuk memberikan dukungan kepada atlet-atlet Murung Raya,” tandasnya.

Bola Api dan Sorak Penonton Warnai Lomba Sepak Sawut FBIM 2026
Sementara itu, sebelumnya, suasana ramai halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah dipenuhi ratusan penonton dari berbagai daerah, Rabu 20 Mei 2026 malam. Dalam gelapnya arena dengan pencahayaan minim, bola api menyala terang dan meluncur cepat di antara kaki para pemain dalam permainan tradisional Sepak Sawut yang menjadi salah satu atraksi paling ditunggu di Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026.
Tampak sorak penonton pecah setiap kali tendangan keras menghantam bola kelapa yang terbakar. Sesekali pertandingan dihentikan sementara ketika api pada bola mulai padam. Panitia kemudian mengganti bola baru yang kembali dibakar sebelum permainan dilanjutkan. Bola yang digunakan bukan bola biasa. Kelapa tua yang telah dikupas direndam semalaman menggunakan minyak tanah agar api tetap menyala selama pertandingan berlangsung.
Koordinator Lomba Sepak Sawut FBIM 2026, Edo Nugraha, menjelaskan permainan tersebut merupakan warisan budaya masyarakat Dayak yang sudah dimainkan secara turun-temurun. “Sepak Sawut ini memang permainan rakyat suku Dayak di Kalimantan Tengah. Permainannya menggunakan buah kelapa yang dikupas hingga tersisa bagian dalamnya atau sawut,” ujarnya.
Menurut Edo, cara bermain Sepak Sawut hampir sama seperti sepak bola atau futsal. Namun perbedaannya terletak pada media permainan yang menggunakan kelapa terbakar. “Kelapa direndam semalaman menggunakan minyak tanah supaya saat pertandingan dimulai bolanya tetap menyala dan apinya awet,” katanya. Untuk pertandingan tahun ini, masing-masing tim terdiri dari tujuh pemain, yakni lima pemain inti dan dua pemain cadangan.
Durasi pertandingan dimainkan selama dua babak masing-masing 10 menit dengan waktu istirahat lima menit. Edo menyebut berdasarkan data panitia FBIM 2026, terdapat tujuh kabupaten dan satu kota yang terdaftar mengikuti perlombaan, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Lamandau, Sukamara, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Pulang Pisau, Seruyan, dan Murung Raya. Namun Kabupaten Seruyan tidak hadir sehingga hanya enam daerah yang bertanding.
“Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun dalam Festival Budaya Isen Mulang sebagai upaya melestarikan permainan rakyat khas Dayak Kalimantan Tengah,” ucapnya. Ia menambahkan, sesuai arahan Gubernur Kalimantan Tengah, pertandingan eksibisi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga akan digelar agar pelestarian permainan rakyat semakin melibatkan banyak pihak.
Sementara itu, Kapten Tim Murung Raya sekaligus pivot Sepak Sawut, Paul Gonzales (25), mengaku timnya telah melakukan persiapan sejak setengah bulan lalu. “Kami latihan di kampung karena tim yang dibawa satu kampung semua. Setelah sampai di Palangka Raya kami juga jogging dan main mini soccer supaya otot lebih siap,” ujarnya. Sebagai juara bertahan, Paul mengaku pengalaman menjadi modal penting saat bermain menggunakan bola api.
“Takut pasti ada, tapi kami sudah punya pengalaman karena juara bertahan tahun kemarin,” katanya. Untuk mengurangi rasa panas saat menendang bola api, para pemain biasanya menggunakan odol dan hand body. “Odol rasanya dingin, jadi saat menendang bola panasnya tidak terlalu terasa,” ungkapnya. Paul menambahkan, selain sebagai perlombaan, Sepak Sawut memiliki makna penting dalam menjaga budaya dan tradisi daerah agar tetap dikenal generasi muda.
“Maknanya bukan cuma soal pertandingan, tapi juga menjaga budaya, mempererat kekompakan, kebersamaan, dan keberanian para pemain,” tandasnya. Ia mengatakan, di daerahnya permainan Sepak Sawut masih sering dimainkan masyarakat, termasuk untuk menghibur saat ada suasana berkabung.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post