PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah, H Sugianto Sabran, mengajak masyarakat dan pelaku usaha di daerahnya untuk memanfaatkan potensi kearifan lokal sebagai upaya meningkatkan gizi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam rapat terkait pengelolaan sumber daya lokal, Sugianto mengungkapkan bahwa bahan-bahan lokal seperti ikan kecil, daun pisang, rotan, dan purun memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan-bahan modern yang lebih mahal dan berdampak buruk bagi lingkungan.
“Beragam ikan kecil kaya nutrisi dan mudah didapat. Jika diolah dengan cara yang benar, ini bisa menjadi alternatif sumber gizi yang sangat baik. Selain itu, kita juga bisa menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan. Murah, ramah lingkungan, dan praktis,” ujarnya, belum lama ini.
Gubernur Sugianto juga menekankan pentingnya mengelola potensi lokal seperti rotan, yang dapat diolah menjadi produk fungsional, seperti piring atau peralatan makan. Menurutnya, produk lokal semacam ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga dapat menjadi peluang ekonomi yang signifikan bagi pengrajin lokal.
“Produk lokal seperti piring rotan tidak hanya unik, tetapi juga berpotensi mendorong perekonomian daerah,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sugianto turut membahas langkah-langkah pengendalian harga bahan makanan bergizi untuk anak-anak, terutama dalam memastikan agar makanan sehat tetap terjangkau. Ia menyebutkan bahwa dengan anggaran sekitar Rp20.000, anak-anak sudah bisa menikmati makanan bergizi lengkap, termasuk ikan, ayam, buah, dan susu.
Lebih lanjut, Gubernur Sugianto mendorong kolaborasi antara pelaku usaha dan koperasi dalam penyediaan bahan-bahan lokal, seperti daun pisang dan purun. Ia menjelaskan bahwa dengan pemberdayaan ini, penjual pisang pun dapat meraih keuntungan, sehingga ekonomi lokal tetap berkembang.
“Kami akan memastikan harga makanan sehat tetap terjangkau. Ini adalah langkah tepat untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah,” ujar Sugianto.
Melalui inisiatif ini, Gubernur Kalimantan Tengah berharap dapat mewujudkan kemandirian pangan serta pengelolaan sumber daya lokal yang berkelanjutan, yang pada gilirannya dapat memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.
“Kita harus inovatif dengan apa yang kita miliki dan memanfaatkan kekuatan lokal untuk memberi dampak positif bagi masyarakat,” tutupnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post