TAMIANG LAYANG – Dimasa Pandemi seperti saat ini, memang sangat mempengaruhi ekonomi masyarakat. Usaha usaha seperti pedagang maupun usaha UMKM lainya begitu jelas merasakan dampak dari pandemi Covid-19.
Seperti yang dialami oleh ibu Apelmi yang hanya menggantungkan usaha pandai besi. Sejak pandemi Covid-19 melanda, orderan menjadi berkurang. Biasanya setiap tahunya Pemerintah daerah Barito Timur selalu memesan Mandau darinya, namun pada tahun 2020 lalu tidak ada.
Padahal, jelas Apelmi, Pemda Barito Timur memesan Mandau lumayan banyak, namun pada saat pandemi melanda, pemasukannya dari usaha pandai besi menjadi berkurang. Namun demikian, dirinya tetap bersyukur karena masih ada yang memesan Mandau, golok maupun lainya.
“Biasanya Pemerintah Daerah Barito Timur setiap tahunya memesan Mandau 10 sampai 20, namun tahun 2020 tidak ada. Mudah mudahan tahun ini ada orderan dari mereka lagi,” ucap Apelmi saat dibincangi dikediamannya, Rabu 3 Maret 2021.
Ia mengatakan, biasanya pemerintah daerah membeli atau memesan Mandau darinya untuk cendramata.”Mereka pesan biasanya untuk cendramata,”ucapnya. Sosok pejuang ekonomi demi mencukupi kebutuhan keluarga di masa pandemi ini, bisa anda temukan di RT 03 Mabidek Desa Haringen Kecamatan Dusun Timur, Bartim.
Ketika hendak memasuki Mabidek, tempat ibu Apelmi menggantungkan hidupnya dengan usaha pandai besi, kami merasa prihatin melihat jalan menuju kerumah Apelmi mengalami rusak. Banyak bebatuan dan debu berterbangan dibadan jalan, khususnya didaerah RT 03.
Riuh rendah suara baja ditempa palu. Suara logam berdentang berikut percikan api berpendar dari lempengan baja merah yang tak kuasa harus melemah kala ditempa melawan kerasnya palu.
Suara tempaan itu saling bersahut-sahutan ketika lelaki bertangan kekar dengan sabar membentuk baja keras untuk dijadikan golok, Mandau dan sebagainya. Ternyata seorang paru baya tersebut adalah suami dari Apelmi. Mereka berdua nampak semangat melestarikan usaha pandai besi yang sudah digilutinya sejak tahun 2001.
Suami Apelmi ini mengaku tak bergeming meski harus dikelilingi panasnya bara dan percikan api yang melenting. Sesekali dia menyeka butiran keringat yang membasahi lembah-lembah tajam di keningnya.
“Sudah 20 tahun kami mengiluti usaha pandai besi ini bersama istri saya. Saya khusuus sebagai tukang pandai besi, dan istri saya yang tukang ukir gagang dan sarung golok maupun Mandau,” ucap Suami Apelmi.
Sementara itu, Ibu Apelmi menambahkan, Hasil karya Pandai besi jenis Mandau melalui tangannya sudah tersebar sampai keluar daerah di Kalteng, bahkan sudah sampai Surabaya. “Semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga ekonomi bisa kembali normal seperti biasa,” pungkasnya.
(iwn/matakalteng.com)






















Discussion about this post