SAMPIT – Otoritas Pelabuhan di Sampit menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan komunikasi antara Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dan para pemangku kepentingan kepelabuhanan. Komitmen tersebut disampaikan menyusul aksi penyampaian aspirasi buruh pelabuhan yang berlangsung di Kantor KSOP Kelas III Sampit, Senin 8 Desember, dan berjalan kondusif tanpa mengganggu aktivitas pelabuhan.
Pihak KSOP menilai aspirasi yang disampaikan TKBM Sampit merupakan bagian dari dinamika pembinaan tenaga kerja pelabuhan yang perlu disikapi melalui dialog dan koordinasi lintas institusi.
Sejumlah isu yang disuarakan buruh dinilai memiliki karakter lokal dan membutuhkan pembahasan khusus bersama pihak terkait.
Kasi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit, Gusti Muchlis, menyampaikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti masukan buruh dengan membuka ruang komunikasi bersama pengusaha, asosiasi, dan instansi pembina lainnya.
“Kami siap menjembatani aspirasi teman-teman TKBM. Ada beberapa pihak yang terlibat dalam pembinaan, sehingga penyelesaiannya perlu duduk bersama agar tetap sesuai regulasi,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa selama berlangsungnya penyampaian aspirasi, seluruh aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit maupun Pelabuhan Bagendang tetap berjalan normal. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan iklim dialog yang baik antara buruh dan otoritas pelabuhan.
Di sisi lain, TKBM Sampit menaruh harapan besar pada peran KSOP sebagai mediator. Koordinator aksi, Umar Hasan, menyampaikan bahwa selain mengikuti tuntutan buruh pelabuhan secara nasional, pihaknya mengajukan sejumlah persoalan lokal yang dinilai perlu segera dibenahi.
Menurut Umar, salah satu persoalan utama yang dirasakan buruh adalah aktivitas bongkar muat di terminal khusus dan terminal untuk kepentingan sendiri yang dinilai belum sepenuhnya melibatkan koperasi TKBM setempat. Kondisi ini, katanya, berdampak langsung pada kesejahteraan tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Sampit.
Ia mengapresiasi respons KSOP yang berjanji memfasilitasi pertemuan dengan pihak perusahaan dan asosiasi terkait dalam jangka waktu sekitar 10 hari ke depan. Bagi TKBM, komitmen tersebut menjadi langkah awal yang penting dalam mencari solusi bersama.
“Yang kami harapkan adalah kejelasan dan kesepakatan yang adil bagi semua. Kami masih menunggu proses mediasi ini dan berharap ada hasil konkret,” ungkap Umar.
Terkait persoalan di Pelabuhan Bagendang, KSOP menjelaskan bahwa status dermaga tersebut sebagai terminal khusus membuat pengaturannya berbeda dengan pelabuhan umum. Namun demikian, KSOP menegaskan tetap berpegang pada ketentuan yang berlaku dan membuka ruang dialog agar aspirasi buruh dapat dipahami secara proporsional.
Aksi penyampaian aspirasi tersebut menjadi penanda pentingnya komunikasi terbuka antara buruh, pengusaha, dan pemerintah. Dengan pendekatan mediasi yang dikedepankan, KSOP berharap persoalan tenaga kerja bongkar muat di Sampit dapat diselesaikan tanpa menimbulkan gejolak dan tetap menjaga kelancaran arus logistik di pelabuhan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post