SAMPIT – Tragedi pembunuhan yang menimpa seorang ibu muda VA (24) dan anaknya berusia tiga tahun, mengguncang Seruyan Hilir Timur, Sungai Bakau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (Kalteng). Ayah korban, Jambli, memberikan kesaksiannya tentang bagaimana ia pertama kali menemukan putri dan cucunya dalam kondisi tak bernyawa.
Kejadian bermula pada Kamis 10 Oktober 2024 pagi, saat Jambli (Ayah kandung korban) yang sehari sebelumnya sudah berjanji untuk membantu membuat kue bersama korban, mulai merasa khawatir. Hingga pagi tiba, korban belum juga menampakkan diri di rumah orang tuanya, dan teleponnya pun tak aktif.
“Saya dan anak saya (VA) sudah sepakat untuk membuat kue bersama pada Kamis pagi. Namun, dari pagi ponselnya tidak aktif dan ia tidak datang ke rumah seperti yang dijanjikan,” ungkap Jambli, di RSUD dr Murjani Sampit pada Jumat 11 Oktober 2024, yang di mana jenazah anak dan cucunya sedang menjalani autopsi.
Karena merasa cemas, Jambli memutuskan untuk mendatangi rumah anaknya. Menurutnya, sebelum siang, kue harus selesai untuk diantar. Setelah mengantar kue, ia pergi ke Kuala Pembuang untuk urusan lain, dan setelah itu langsung menuju rumah VA. Setibanya di rumah VA, Jambli bertemu dengan cucunya yang menyampaikan hal aneh tentang kondisi rumah.
“Anak VA yang satunya lagi yang ikut saya bilang lampu depan rumah menyala, tapi lampu di dalam rumah mati,” ujarnya. Merasa ada yang tidak beres, Jambli dan cucunya segera menuju rumah korban. Saat sampai di sana, mereka mendapati bahwa pintu rumah terkunci dari dalam. Merasa semakin khawatir, Jambli kemudian mengintip melalui jendela samping dan pintu belakang yang tidak sepenuhnya tertutup. Dari luar, rumah terlihat gelap dan berantakan.
Jambli akhirnya menggunakan senter ponselnya untuk menyoroti kondisi di dalam rumah. Betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi rumah yang kacau. Saat masuk lebih dalam, ia menemukan VA dan cucunya sudah tak bernyawa di kamar mereka. “Saat itu, kondisi rumah gelap. Saya menyalakan senter ponsel dan melihat rumah sudah berantakan. Saya periksa lebih jauh, dan menemukan VA serta cucunya sudah tidak bernyawa,” kata Jambli dengan suara bergetar.
Menjadi Korban Pembunuhan
Sementara itu, melihat kejadian ini Jambli menduga bahwa putrinya VA menjadi korban pemerkosaan sebelum akhirnya dibunuh oleh pelaku yang hingga saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian. “Saat ditemukan, anak saya ditutupi kain di badanya, tetapi bajunya tersingkap ke atas, dan celananya tidak ada,” ungkap Jambli.
Dia juga mengungkapkan bahwa selain dugaan pemerkosaan, pelaku juga di duga telah melakukan perampokan usai melakukan aksi brutalnya, sebab motor Jupiter Z milik anaknya di duga hilang dibawa pelaku. Jambli yakin bahwa setelah melakukan kekerasan terhadap putrinya, pelaku sempat menutupi tubuh korban dengan kain sebelum melarikan diri.
“Bajunya tersingkap dan celananya sudah tidak ada. Sepertinya pelaku sempat menutupi tubuhnya dengan kain sebelum kabur,” tambah Jambli. Selain itu, informasi yang beredar di lapangan menyebutkan bahwa VA diduga meninggal akibat kekerasan fisik yang sangat parah. Bagian kepalanya mengalami pendarahan serius yang diduga disebabkan oleh benturan keras. Kepala korban ditemukan dalam kondisi penuh luka, dan diduga dibenturkan ke benda keras.
Diketahui, bahwa semasa hidupnya, VA tidak pernah bermasalah dengan orang dan juga dikenal dengan karakter yang pendiam, sehingga keluarga korban merasa kaget dengan kabar bahwa VA dan anaknya menjadi korban pembunuhan. “Kasus menimpa anak dan cucu saya ini, saya serahkan sepenuhnya ke pihak Kepolisian,” tutup Jambli.
(gus/matakalteng)






















Discussion about this post