SAMPIT – Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur Prapti Budi Astuti menyampaikan, rendahnya budaya literasi yang mengkhawatirkan tidak hanya pada kalangan pelajar atau peserta didik saja namun juga di kalangan tenaga pendidik.
Padahal menurut Prapti, di daerah Kotim literasi sudah menjadi budaya apalagi di bidang pendidikan yang mengaplikasikan budaya literasi ini pada jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
“Namun pada faktanya budaya literasi dalam kondisi yang mengkhawatirkan, termasuk juga mengkhawatirkan untuk orang-orang dewasa termasuk kita selaku pendidik,”ujarnya, Senin 28 Oktober 2024.
Sebagai contoh lanjutnya, saat ini Disdik sedang gencar mensosialisasikan cuti secara online di sekolah-sekolah yang ada di Kotim. Ketika ia mensosialisasikan itu ternyata bapak ibu guru justru masih banyak yang belum tahu cuti itu sendiri untuk apa saja.
“Bahkan ada yang bertanya apakah cuti guru itu baru saja berlaku, padahal hak cuti itu sudah ada undang-undangnya. Hal itu menunjukkan bahwa kita masih kurangnya literasi padahal sudah bisa diakses melalui laman internet,”bebernya.
Literasi sendiri lanjutnya, adalah kemampuan menulis atau membaca. Secara jelasnya literasi disebut kegiatan untuk membudidayakan budaya menulis atau membaca agar mendapatkan informasi atau pengetahuan yang didapat di dalamnya.
“Sehingga memang budaya literasi harus selalu kita tingkatkan terutama dalam dunia pendidikan yang akan sangat mempengaruhi pada hasil belajar dan kesuksesan metode pembelajaran yang diberikan guru kepada peserta didik,”pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post