SAMPIT – Mahasiswa identik dengan kreativitas, inovasi, dan kepedulian, seperti yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit. Kelompok mahasiswa M. Jumawan, Rizky Alisa, Hanna Humairoh, dan Rusydan Zahir Ajalah melakukan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pengabdian masyarakat dengan melakukan edukasi mitigasi bencana kabut asap dengan untuk menumbuhkan disaster awarenes kepada Anak usia dini di TK Diniyatul Hidayah Sampit.
Uniknya, metode yang mereka gunakan adalah metode tradisional yaitu (bakesah). Bakesah sendiri merupakan tradisi lisan yang sering digunakan oleh orang tua suku Dayak untuk menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anak.
“Bakesah berarti bercerita. Cerita yang dituturkan sering menggunakan tokoh yang dekat dengan kehidupan anak. Cerita-cerita yang dituturkan kebanyakan bersifat spontan sesuai dengan nasihat yang akan diberikan. Namun, ada juga cerita-cerita rakyat yang turun temurun,”kata Dr. Gita Anggraini, M.Pd.I selaku dosen pendamping, Rabu 17 Juli 2024.
Program yang dilaksanakan di TK Diniyatul Hidayah Sampit memiliki tujuan utama untuk menumbuhkan disaster awareness pada anak usia dini.
“Program ini penting dilakukan sebab bencana kabut asap sering terjadi di Kota Sampit. Anak usia dini merupakan kelompok rentan ketika terjadi bencana. Mereka sangat rentan terdampak baik secara fisik maupun psikologis. Pada aspek fisik gangguan kesehatan saat asap dapat menghambat tumbuh kembang anak. Aspek psikologis bencana bisa menimbulkan trauma. Oleh sebab itu, mereka harus mendapatkan edukasi agar siap dan siaga saat terjadi bencana,”jelasnya.
Sementara Jumawan selaku ketua tim PKM mengatakan, bahwa manfaat kegiatan ini adalah untuk mewujudkan kebiasaan siap dan siaga dalam menghadapi ancaman bencana kabut asap pada anak, menumbuhkan rasa cinta lingkungan pada anak usia dini. Penanaman pemahaman mengenai mitigasi bencana kepada anak harus dilakukan sejak dini.
“Selain itu, kegiatan ini juga memberikan inovasi metode pendidikan kebencanaan berbasis kearifan lokal yang dapat diimplementasikan oleh guru di sekolah serta menyukseskan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),”ucapnya.
Program ini dilaksanakan sejak bulan Mei hingga bulan Juli 2024. berbagai materi telah diberikan meliputi penyebab bencana kabut asap, cara hidup sehat saat kabut asap, cara mencegah kabut asap, ransel sehat, dan simulasi bencana. Materi-materi tersebut disampaikan dengan metode bakesah yang diintegrasikan dengan media edukasi seperti boneka tangan, pop up book, flash card, serta media audiovisual.
Terpisah, Rahayu selalu kepala sekolah merasa bahwa anak-anak senang ketika program ini dilaksanakan di sekolah mereka. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sangat untuk memeberikan wawasan kebencanaan kepada anak didik dan orang tua.
“Sebelumnya, sekolah jarang memberikan edukasi tentang kabut asap. Saya berharap program ini dapat dikembangkan dengan tema yang lain,”ungkapnya.
Setelah dilaksanakan sejumlah kegiatan, dilaksanakan eveluasi untuk melihat hasil dan perbaikan program ke depannya. Berdasarkan hasil analisise kegaitan program program ini berpotensi untuk mendorong kesadaran pentingnya edukasi mitigasi anak usia dini bagi masyarakat di Kota Sampit.
Selain itu, dapat juga dikembangkan menjadi program sekolah siaga bencana yang dapat mendukung program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) yang saat ini sedang digencarkan di Kabupaten Kotawaringin Timur.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post