PALANGKA RAYA – Harga Gas Melon atau Gas Elpiji 3 kg subsisi dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang keadaannya kurang mampu. Padahal, HET dari Gas Melon tersebut hanya Rp 22 ribu.
Oleh karena itu, ketika dijual di kisaran harga antara Rp 35 ribu sampai dengan Rp 50 ribu, maka hal tersebut sangat memberatkan masyarakat yang membeli gas tersebut. Menanggapi persoalan yang dihadapi tersebut, Achmad Rasyid, anggota DPRD Kalteng menekankan bahwa hal tersebut merupakan masalah klasik yang terjadi secara terus-menerus di wilayah tersebut dan membutuhkan perhatian dari pemerintah.
Menurutnya, penyaluran gas melon subsidi ini tidak tepat sasaran. Banyak kalangan masyarakat mampu yang masih menggunakan gas melon subsidi padahal membeli gas tersebut tidak membebani keuangan mereka,” ujarnya, Kamis 27 Juni 2024. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemerintah untuk meningkatkan sinergitas dengan pihak terkait, baik dinas maupun Pertamina.
Hal ini perlu dilakukan guna menyediakan solusi terbaik dalam mengatasi persoalan tersebut. Ketua Komisi II ini berharap bahwa Pemerintah segera mengambil tindakan dalam mengatasi hal ini. Selain itu, dia menekankan bahwa penanganan harga gas melon yang melebihi HET perlu diperbaiki dari sumber masalah, agar ke depannya tidak lagi terulang dan masyarakat tidak merasa terbebani dengan harga yang mahal.
“Masyarakat dapat melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan penjualan gas Melon melampaui HET,” imbau Achmad Rasyid. Dia menilai hal ini akan memberikan motivasi kepada pemerintah dan mendorong mereka untuk bergerak lebih cepat dalam menyelesaikan masalah ini.
Persoalan harga Gas Melon subsidi yang melebihi HET sudah menjadi masalah yang terjadi sejak lama dan memengaruhi kalangan masyarakat yang keuangannya tidak besar. “Pemerintah seharusnya menjadi garda terdepan dalam upaya mengatasi masalah tersebut,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post