• Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
Selasa, 9 Juni 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Mata Kalteng
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini
Mata Kalteng
  • News
  • Daerah
  • Legislatif
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom

Beranda » Mamapas Lewu dan Kita yang Pelupa

Mamapas Lewu dan Kita yang Pelupa

Selasa, 11 Agustus 2020
in Kolom
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muhammad Yasir****

Saya harus memacu kuda besi yang sudah cukup tua dan dipercayakan oleh Mata Kalteng yakni sebuah media pemberitaan yang beroperasi dan berkontribusi mencakup wilayah Kalimantan Tengah. Karena saya harus tiba di Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) untuk suatu kepentingan pribadi. 

Baca juga berita lainnya

Razia Gabungan di Rutan Palangka Raya, 12 Warga Binaan Positif Narkoba

Kuota BBM Naik Jadi 200 Kiloliter, Pemprov Kalteng Upayakan Antrean Normal

Gubernur Kalteng Tekankan Pembangunan Berbasis SDM, Lingkungan, dan Harmoni Sosial

Kapasitas dan SDM Terbatas, IGD Doris Sylvanus Masih Kewalahan

Melintasi jalan laterit merah berbatu, melihat pepohonan baru yang lahir — saya tidak mengenal pohon sejak kecil dan orang bilang itu pohon sawit — serta angin yang berhembus sedikit berbeda.

Saya berpikir, saya harus selamat dan tiba tepat waktu di Sampit. Namun, untuk kali kedua tradisi yang ada di desa tetangga, Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, yaitu Mamapas Lewu atau membersihkan desa dari bala atau roh-roh jahat yang mengganggu kehidupan orang-orang di desa.

Kuda besi saya berhentikan di tepi jalan, kemudian saya turun dan berjalan perlahan hingga berada persis di bawah benang merah yang membentang lengkap dengan kain kuning dan merah yang berguntai di tengahnya. 

Saya mengambil foto untuk kepentingan arsip seraya bertanya kepada diri sendiri: apakah Mamapas Lewu masih se-sakral pra Tumbang Anoi pada abad 19? Jika masih sakral, mengapa bala masih menghantui desa?

Namun, sesuatu yang menunggu saya di Sampit mengharuskan saya untuk bergegas. Saya bergegas meninggalkan benang merah yang membentang itu. Sepanjang perjalanan kain kuning dan kain merah yang bermakna perempuan dan lelaki itu hidup dalam kepala saya. 

Seakan-akan mereka berkata: kalian adalah generasi pelupa yang perlahan-lahan digerus kemajuan zaman yang mundur. 

Dua kilometer melewati Simpang Bangkal, kuda besi itu tiba-tiba mati persis di hadapan sebuah rumah yang di pekarangannya berdiri dua Sapundu atau Pantak; patung yang menggambarkan lika-liku dan status seseorang yang telah naik ke Sorga semasa hidupnya dalam khazanah Kaharingan.

Kali kedua saya turun dari kuda besi itu dan mencoba memeriksa penyakit kuda besi itu, namun karena saya seorang awam menyoal permesinan saya memutuskan untuk mengengkol dan mengengkol hingga, mungkin, 10 menit kemudian kuda besi itu menyala. Dan saya kembali bergegas.

Relevansi Mamapas Lewu

Bagi sebagian orang yang percaya bahwa kemajuan dapat dilihat secara fisik, seperti teknologi Mamapas Lewu tidak lain merupakan kebiasaan kuno orang-orang Dayak yang notabe mempercayai tradisi tersebut sebagai cara lain untuk menjaga stabilitas dan ekosistem kehidupan.

Perspektif ini sangat bias. Mengapa? Jika kita tersekte pada pola berpikir rasional dan irasional, maka Mamapas Lewu akan diklaim sebagai “yang irasional”. Namun, mari saya mengajak anda sekalian untuk melihat Mamapas Lewu dalam konteks relasi kuasa antara alam dan manusia atau manusia dan alam.

Secara harfiah alam tidak membutuhkan manusia, tetapi sebaliknya. Dalam neraca kebutuhan sandang, pangan, dan papan manusia menempati urutan pertama sebagai penyebab rusaknya stabilitas dan ekosistem alam. Mereka, manusia-manusia, memiliki kemampuan untuk mendominasi sekian juta kekayaan alam yang ada di Bumi dengan berbagai cara ekspansi pula.

Pada fase ini, jika kita bersepakat pada “yang rasional” maka manusia-manusia-lah yang merupakan “bala” itu. Oleh sebab itu, Mamapas Lewu, menurut hemat saya (silakan kritisi atau bantah asal bertanggungjawab), menjadi “yang rasional”.

Satu patok tegas sebagai dasar bagi kita untuk membaca hari esok, lusa, dan tahun-tahun berikutnya ialah melihat gejala aneh yang dialami oleh manusia, seperti perasaan tidak puas atas apa yang dimiliki, seperti harta, tahta, dan kuasa.

Seolah-olah, mereka menganggap mampu menguasai Bumi dengan otak dan kekufuran mereka. Dan ya, saya hampir lupa ini; sesuatu yang penting menunggu saya di Sampit, saya bergegas.

Kita yang Pelupa

Selama berdiaspora di Yogyakarta selama bertahun-tahun dengan alasan pendidikan dan menjadi yang berbeda, saya merasa bahwa posisi kebudayaan — Mamapas Lewu juga merupakan prodak dari kebudayaan — setara kain sutera yang direndam dalam kolam merkuri dari raksa untuk menyatukan emas.

Ada banyak kompleksitas, baik kepentingan politik serta mandulnya pola pendidikan di Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebabkan kebudayaan tersub-altern bahkan, mengerikannya, dijadikan sebagai ladang pendapatan atau dikomersilkan tanpa adat! Dan ya… kondisi demikian, mestinya, merupakan persoalan pelik yang harus diselesaikan.

Namun, bukan rahasia umum, bahwa kebanyakan manusia (banyak, tidak semua) meletakkan uang sebagai benda yang memiliki kuasa setara Tuhan. Karena setara itulah, uang membuat kita lupa banyak hal. Salah satunya, Mamapas Lewu.

Tidak sampai di situ. Mari saudara sekalian, melalui tulisan pendek di Mata Kalteng ini saya mengajak saudara sekalian untuk melihat lebih dalam dan kritis kondisi sosial masyarakat, terkhusus generasi aneh yang mereka sebut “millenial”.

Adakah diantara mereka mengerti apa itu Mamapas Lewu? Pada kenyataannya, mereka lebih suka menjadi gelembung ombak yang pecah sebelum sampai ke daratan atau menjadi bagian “pelupa” tadi. Sementara itu, di mana posisi kita? Bukankah kita juga sibuk melupakan itu, karena sibuk berusaha untuk tetap hidup lebih mulia dari seekor anak tupai ?

Tabik, Istriku tercinta sudah tiba di Sampit. Kuala Pembuang, 2020.

(Penulis adalah wartawan matakalteng yang berdomisili di Kabupaten Seruyan)

Share1Tweet1SendShareShareSendScan
ad-space
Previous Post

Camat Imbau Warga Atur Speaker Sarang Burung Walet

Next Post

Sah! PDIP Rekomendasikan Halikinnor – Irawati di Pilkada Kotim

Berita Terkait

Kolom

Razia Gabungan di Rutan Palangka Raya, 12 Warga Binaan Positif Narkoba

Kamis, 21 Mei 2026
Kolom

Kuota BBM Naik Jadi 200 Kiloliter, Pemprov Kalteng Upayakan Antrean Normal

Kamis, 7 Mei 2026
Kolom

Gubernur Kalteng Tekankan Pembangunan Berbasis SDM, Lingkungan, dan Harmoni Sosial

Kamis, 30 April 2026
Kolom

Kapasitas dan SDM Terbatas, IGD Doris Sylvanus Masih Kewalahan

Selasa, 28 April 2026
Opini

Kekerasan Seksual Verbal, Cermin Kerusakan Sistem Sosial

Jumat, 24 April 2026
Kolom

Pimpinan Parlemen Ikuti Retret Nasional

Sabtu, 18 April 2026
Load More
Next Post

Sah! PDIP Rekomendasikan Halikinnor - Irawati di Pilkada Kotim

Putus Penyebaran Covid-19 di Pulpis, Mahasiswa UMM Lakukan Disinfektan di Rumah Ibadah

Pilkada Kotim, Golkar Masih Menunggu Hasil Survey

Wajibkan Pengguna Internet Gratis Terapkan Protokol Kesehatan

Bupati Kobar Serahkan Ribuan Seragam Gratis untuk Seluruh Peserta Didik Baru

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR

Polda Kalteng Ungkap 121 Kasus Kejahatan Jalanan Selama 2026, 233 Tersangka Berhasil Diamankan

Sabtu, 30 Mei 2026

Raih WTP Ke-12 Beruntun, Bukti Komitmen Pemkab Kotim Kelola Keuangan Secara Transparan

Jumat, 29 Mei 2026

Gubernur Kalteng Lantik Sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Selasa, 26 Mei 2026

Damkar Kotim Bergerak Cepat Padamkan Kebakaran di Gang Mutiara, Dugaan Sementara Korsleting Listrik

Sabtu, 23 Mei 2026

Kapasitas Pesawat Tetap Full 180 Penumpang, Super Air Jet Kurangi Bagasi Gratis

Selasa, 19 Mei 2026

Drainase Tersumbat dan Kesadaran Warga Jadi Sorotan di Tengah Banjir Perkotaan Kotim

Selasa, 19 Mei 2026

  • Hakim Nyatakan Penangkapan Tidak Sah, Rudiyanto Resmi Bebas dari Tahanan

    12225 shares
    Share 4890 Tweet 3056
  • TPP Bukan Hak bagi ASN

    5948 shares
    Share 2379 Tweet 1487
  • Ini Jadwal Libur Siswa saat Bulan Ramadhan

    4268 shares
    Share 1707 Tweet 1067
  • 317.000 Hektare Kebun Sawit Behasil Disita Satgas PKH

    3798 shares
    Share 1519 Tweet 950
  • Satgas PKH Dari Jakarta Akan Mendarat di Sampit, Tinjau Penyitaan Lahan Perusahaan Nakal

    3617 shares
    Share 1447 Tweet 904
  • Kunjungi Kalteng, Kasum TNI Pantau Langsung Penyitaan Lahan Satgas Garuda di Kotim

    2782 shares
    Share 1113 Tweet 696
  • PT HMBP dan Polda Kalteng Didenda Rp 335 Juta

    2363 shares
    Share 945 Tweet 591
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman
  • Kontak
COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK.
TENTANG KAMI  |  PEDOMAN  |  DISCLAIMER
KEBIJAKAN PRIVASI  |  KONTAK
© 2018-2023 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.
PT RAJA DIGITAL MEDIA
JL. BUMI RAYA I, PERUM.ZAHRANA, RT.01/RW.01
KEL. BAAMANG BARAT, KEC. BAAMANG
SAMPIT, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • News
  • Daerah
    • Kalimantan Tengah
    • Palangka Raya
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Gunung Mas
    • Kapuas
    • Katingan
    • Kotawaringin Barat
    • Kotawaringin Timur
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Legislatif
    • DPRD Kalimantan Tengah
    • DPRD Kota Palangka Raya
    • DPRD Barito Selatan
    • DPRD Barito Timur
    • DPRD Gunung Mas
    • DPRD Kapuas
    • DPRD Katingan
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPRD Kotawaringin Timur
    • DPRD Lamandau
    • DPRD Murung Raya
    • DPRD Pulang Pisau
    • DPRD Seruyan
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Politik
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Kolom
    • Advetorial
    • Opini

COPYRIGHT © 2018-2023 MATA KALTENG
PROUDLY POWERED BY TEKNO HOLISTIK