SAMPIT – Keramaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menjadi panggung hiburan dan seremoni pemerintahan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi para pedagang kecil. Di antara riuhnya pengunjung di sekitar Stadion 29 November, Nonoy, pedagang asongan asal Banjarmasin, tampak setia menjajakan dagangannya sambil berharap rezeki terus mengalir.
Nonoy mengaku telah menekuni usaha berjualan secara keliling hampir tiga tahun terakhir. Ia biasa berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mengikuti berbagai kegiatan dan event besar demi mempertahankan penghasilan.
“Alhamdulillah, usaha kami ini ya beginilah, kami syukuri apa adanya. Yang penting lancar dan ada kemajuan, mudah-mudahan ke depannya bisa terus maju,” ujarnya sambil melayani pembeli di lokasi acara HUT Kotim, Rabu 7 Januari 2026.
Menurut Nonoy, berjualan di acara besar seperti HUT daerah menjadi salah satu peluang terbaik bagi pedagang kecil sepertinya. Meski tidak selalu ramai, ia tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh setiap hari.
“Kalau lagi ramai, Alhamdulillah bisa dapat sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Tapi kalau sepi, ya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu sehari,” tuturnya jujur.
Ia menjelaskan, sistem berjualannya memang tidak menetap. Setiap ada kegiatan besar atau keramaian, ia bersama rekan-rekan pedagang lainnya akan datang dan mencoba peruntungan. Mobilitas tinggi menjadi bagian dari keseharian yang harus dijalani demi mencukupi kebutuhan hidup.
“Kami ini jualannya keliling. Kalau ada event-event seperti ini, pasti kami kejar ke setiap daerah,” katanya.
Dalam momentum HUT Kotim ini, Nonoy menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah agar pedagang kecil, khususnya pedagang asongan dan kaki lima, bisa mendapatkan perhatian lebih. Ia berharap ada kebijakan yang memberikan ruang usaha yang lebih tetap sehingga tidak harus terus berjualan secara berpindah-pindah.
“Kami sebagai pedagang, kami berlima ini berharap ada perhatian dari pemerintah. Kalau bisa kami diberi kelonggaran dan tempat supaya tidak harus terus berjualan keliling,” ucapnya.
Ia juga berharap ke depan ada bantuan atau program pemberdayaan bagi pedagang kecil, terutama yang menggantungkan hidup dari usaha informal. Menurutnya, bantuan bukan semata soal modal, tetapi juga kepastian tempat dan perlindungan usaha.
“Mudah-mudahan ke depannya ada bantuan untuk pedagang kaki lima, terutama kami yang jualan keliling ini,” harap Nonoy.
Di tengah gemerlap perayaan HUT ke-73 Kotim, kisah Nonoy menjadi gambaran nyata denyut ekonomi rakyat kecil yang ikut bergerak seiring keramaian. Bagi para pedagang seperti dirinya, perayaan daerah bukan sekadar hiburan, melainkan peluang untuk menyambung hidup dan menaruh harapan akan masa depan usaha yang lebih baik.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post