SAMPIT – Lomba membuat lemang yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi lebih dari sekadar ajang perlombaan kuliner. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian budaya, sekaligus pengingat akan kekayaan kuliner tradisional Dayak yang kini mulai jarang ditemui.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Yuspianus Marwani, pembuat lemang yang telah puluhan tahun menetap di Kalimantan.
“Lemang merupakan makanan khas Dayak yang memiliki nilai budaya kuat dan biasanya dibuat pada momen-momen penting, seperti setelah panen padi atau saat mulai menanam padi,”ujarnya, Rabu 7 Januari 2026.
Menurutnya, cara memasak lemang Dayak memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari daerah lain.
“Ini budaya asli Dayak. Memang di daerah lain juga ada lemang, tapi cara memasaknya berbeda. Ada yang pakai bumbu bawang, daun pandan, dan macam-macam. Kalau lemang tradisional orang Dayak cuma pakai santan dan garam saja,” ujarnya.
Ia menyebutkan, proses pembuatan lemang membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak singkat. Beras yang telah dicampur santan dan garam dimasukkan ke dalam bambu, kemudian dibalut daun pisang sebelum dibakar secara perlahan.
“Pembuatannya kurang lebih dua setengah jam, tergantung besar bambunya. Semakin besar bambunya, semakin lama juga waktu memasaknya. Cara membakarnya pun harus hati-hati,” jelasnya.
Meski sederhana dari sisi bahan, rasa lemang dinilai sangat khas dan gurih. Lemang bisa disantap dengan berbagai lauk pendamping, seperti sate atau opor ayam, namun tanpa lauk pun tetap nikmat.
“Hasil masakannya bisa dimakan dengan sate, opor ayam, atau masakan lainnya. Bahkan tanpa lauk atau sayur pun, lemang ini sudah bisa dinikmati karena rasanya memang sudah gurih,” katanya.
Yuspianus sendiri bukan asli Kalimantan. Ia berasal dari Sulawesi Tengah, sementara sang istri berasal dari Kasongan. Namun, ia mengaku telah lebih dari 40 tahun menetap di Kalimantan dan merasa lemang Dayak sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya dari Sulawesi Tengah, istri dari Kasongan. Tapi saya sudah puluhan tahun, lebih dari 40 tahun, tinggal di Kalimantan,” tuturnya.
Ketertarikannya menggeluti usaha lemang bermula dari keprihatinan melihat semakin sedikit orang yang mau membuat makanan khas Dayak tersebut. Sejak masih sekolah, ia sudah terbiasa membantu orang tua membuat lemang.
Setelah pensiun sebagai guru, ia memutuskan untuk menekuni usaha pembuatan lemang secara serius.
“Sejak saya sekolah, saya sudah ikut bantu-bantu orang tua membuat lemang. Setelah saya pensiun jadi guru, saya langsung menggeluti usaha berjualan dan membuat lemang,” ungkapnya.
Saat ini, Yuspianus mengaku hampir setiap hari menerima pesanan lemang, baik untuk kebutuhan acara pernikahan, kegiatan adat, hingga ibadah. Bambu sebagai bahan utama biasanya diperoleh dari beberapa wilayah, seperti Desa Luwuk Bunter atau Kandan di Kecamatan Kota Besi.
“Bambunya biasanya kami cari di Luwuk Bunter atau Kandan di Kecamatan Kota Besi. Konsumennya cukup banyak di Kabupaten Kotim, biasanya ada yang pesan untuk acara pernikahan, acara adat, atau ibadah,” jelasnya.
Melalui lomba memasak lemang dalam rangka HUT Kotim ini, Yuspianus berharap generasi muda semakin terpanggil untuk melestarikan kuliner tradisional Dayak. Ia menegaskan bahwa peran anak muda sangat penting agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman.
“Mudah-mudahan dengan adanya lomba memasak lemang ini, generasi muda kita bisa terpanggil untuk ikut melestarikan makanan khas Dayak. Kalau bukan pemuda kita, siapa lagi? Yang tua-tua ini hanya bisa menjadi contoh,” pungkasnya.
Bagi Yuspianus, lemang bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan, tradisi, dan identitas budaya Dayak yang patut dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post