SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prediksi musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Jika sebelumnya puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, hasil analisis terbaru menunjukkan puncaknya bergeser menjadi September 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil pembaruan analisis klimatologi yang dilakukan BMKG berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer dalam beberapa waktu terakhir.
“Prediksi awal kami puncak musim kemarau berada di Agustus. Setelah dilakukan review dan analisis kembali, puncaknya bergeser menjadi September,” ujarnya, Rabu 15 Juli 2026.
Menurut Mulyono, perubahan itu dipengaruhi oleh bergesernya awal musim kemarau. Pada akhir Juni, wilayah Kotim masih beberapa kali diguyur hujan, sehingga awal musim kemarau yang semula diperkirakan datang lebih cepat mengalami penyesuaian.
Ia menjelaskan, saat ini Kotim telah resmi memasuki musim kemarau. BMKG memperkirakan musim kemarau berlangsung mulai Juni hingga berakhir sekitar akhir Oktober atau sekitar lima bulan.
“Kalau dihitung mulai Juni sampai akhir Oktober, kurang lebih lima bulan. Ini termasuk cukup panjang dibanding beberapa tahun terakhir,” katanya.
Mulyono menyebut panjangnya musim kemarau tahun ini tidak lepas dari pengaruh fenomena El Nino yang intensitasnya meningkat menuju kategori kuat. Kondisi tersebut membuat curah hujan semakin berkurang sehingga kemarau terasa lebih panjang dan lebih kering.
“Tahun ini kita menghadapi musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Dampaknya kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama,” jelasnya.
Selain itu, arah angin yang kini didominasi dari sektor selatan hingga tenggara turut memperkuat kondisi kering di wilayah Kotim. Angin dari arah tersebut membawa massa udara yang relatif minim uap air sehingga peluang hujan semakin kecil.
Selama musim kemarau ini, suhu udara maksimum di Kotim tercatat berkisar 33 derajat Celsius. Meski demikian, menurut Mulyono, suhu tersebut belum berdampak langsung terhadap aktivitas penerbangan.
“Yang mengganggu penerbangan bukan suhu panasnya, tetapi kalau nanti muncul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat maupun operasional transportasi udara.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, dan menjaga kesehatan karena beberapa pekan terakhir hujan mulai berkurang sementara cuaca terasa lebih panas,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling terdampak selama musim kemarau panjang. Berkurangnya curah hujan menyebabkan cadangan air tanah ikut menurun sehingga petani disarankan menyesuaikan pola tanam.
“Untuk petani sebaiknya memilih jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan atau tanaman yang kebutuhan airnya lebih sedikit agar tetap bisa bertahan selama musim kemarau,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)
















Discussion about this post