SAMPIT – Kuliner tradisional tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus mendukung ketahanan pangan. Pesan itu mengemuka dalam Lomba Masak Kreasi Resep Mustika Rasa yang dipadukan dengan hidangan khas Dayak, Panginan Sukup Simpan, di Gedung Wanita Sampit, Jumat 26 Juni 2026.
Mewakili Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Asisten I Sekretariat Daerah Kotim, Waren, mengatakan pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui pertunjukan seni semata, tetapi juga dapat diwujudkan dengan memperkenalkan kembali makanan tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Panginan Sukup Simpan bukan sekadar kekayaan cita rasa daerah, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur kepada Tuhan, serta penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai inilah yang perlu terus kita jaga dan lestarikan di tengah arus modernisasi,” katanya, Jumat 26 Juni 2026.
Menurutnya, penyelenggaraan lomba tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali kekayaan pangan lokal sekaligus mengembangkan kreativitas dalam mengolah bahan makanan tradisional agar lebih diminati berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
Ia menilai perpaduan resep dari buku legendaris Mustika Rasa dengan kuliner khas Dayak menjadi inovasi yang mampu memperkenalkan budaya lokal dalam kemasan yang lebih menarik tanpa meninggalkan cita rasa dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Selain menjadi upaya pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kreativitas mengolah pangan lokal dapat berkembang menjadi usaha kuliner yang memiliki nilai jual sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Waren menambahkan, penggunaan bahan pangan lokal juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan daerah. Konsumsi pangan bergizi berbasis potensi lokal diyakini turut mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk menekan angka stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Kami mendukung penuh setiap kegiatan yang mengangkat budaya lokal karena selain menjaga identitas daerah, juga mampu memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat,” ujarnya. Ia pun mengingatkan para peserta agar menjadikan perlombaan tersebut sebagai sarana belajar, bertukar pengalaman, dan memperluas wawasan dalam mengembangkan kuliner tradisional.
“Menang atau kalah adalah hal biasa, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita terus bangga terhadap budaya sendiri dan ikut melestarikannya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
Lomba yang digagas DPC PDI Perjuangan Kotim itu berlangsung semarak dengan diikuti berbagai peserta yang menyajikan aneka kreasi olahan pangan lokal. Melalui kegiatan tersebut diharapkan kuliner tradisional Dayak semakin dikenal luas, sekaligus menjadi salah satu potensi unggulan daerah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kotim.
(dia/matakalteng)



















Discussion about this post