SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperkuat strategi percepatan penurunan stunting melalui berbagai inovasi berbasis desa dan digital dalam Penilaian Kinerja Stunting 2026. Pj Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa upaya ini diarahkan pada intervensi langsung hingga ke akar permasalahan di tingkat masyarakat.
“Program penanganan stunting di Kotim tidak lagi bersifat umum, tetapi sudah menyentuh langsung ke desa melalui inovasi Desa Siaga Stunting, pemanfaatan aplikasi Si Laras, serta Gerakan Orang Tua Asuh yang melibatkan banyak pihak,” ujar Umar Kaderi, Rabu 29 April 2026.
Ia menjelaskan, Desa Siaga Stunting menjadi salah satu pendekatan utama yang mendorong kemandirian masyarakat dalam menangani persoalan gizi. Melalui program ini, warga didorong aktif dalam edukasi kesehatan, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga pengelolaan dapur gizi yang berbasis pemberdayaan kader PKK.
Menurutnya, pendekatan berbasis desa dinilai efektif karena mampu menjangkau keluarga berisiko stunting secara lebih cepat dan tepat. Selain itu, keterlibatan langsung masyarakat membuat program lebih berkelanjutan.
“Inovasi ini mengedepankan peran masyarakat. Edukasi dilakukan secara intensif, termasuk pemanfaatan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak,” tambahnya.
Di sisi lain, Pemkab Kotim juga mengandalkan teknologi melalui aplikasi Si Laras. Aplikasi ini dirancang untuk memantau data gizi anak secara real-time, sehingga memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi lebih cepat.
Dengan sistem digital tersebut, data balita dapat terintegrasi mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional percepatan penurunan stunting yang menekankan pentingnya data akurat dan terbarukan sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Aplikasi Si Laras membantu kami melihat kondisi di lapangan secara langsung. Jika ada anak yang terindikasi stunting, penanganan bisa segera dilakukan tanpa menunggu laporan manual,” jelasnya.
Tak hanya itu, Gerakan Orang Tua Asuh juga menjadi kekuatan tambahan dalam menekan angka stunting. Program ini mengajak keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat luas melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Kolaborasi ini dinilai penting mengingat stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor ekonomi, pola asuh, dan lingkungan. Dengan adanya dukungan lintas sektor, intervensi yang dilakukan menjadi lebih komprehensif.
“Melalui Gerakan Orang Tua Asuh, kita ingin memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan pemenuhan gizi yang cukup. Ini adalah bentuk gotong royong dalam membangun generasi masa depan,” tegasnya.
Secara nasional, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun hingga 14 persen sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Untuk mencapai target tersebut, berbagai daerah, termasuk Kotim, terus berinovasi dan memperkuat sinergi program.
Umar Kaderi optimistis, dengan berbagai langkah yang telah dilakukan, Kotim mampu menekan angka stunting secara signifikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi dan kolaborasi semua pihak.
“Dengan sinergi lintas sektor dan inovasi yang terus dikembangkan, kami optimistis Kotim mampu mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan unggul,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post