SAMPIT – Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Ramadansyah, menyoroti kondisi memprihatinkan kawasan miniatur budaya di Kota Sampit yang membutuhkan penanganan serius, termasuk rencana pembangunan ulang sejumlah bangunan yang telah rusak parah.
Dia menyebut, salah satu bangunan utama seperti rumah betang sudah tidak memungkinkan untuk direhabilitasi karena kerusakan yang cukup berat, sehingga lebih tepat dibangun kembali dari awal.
“Kalau untuk miniatur budaya di Kota Sampit, insya Allah ke depan akan kita benahi. Untuk rumah betangnya itu sudah hancur parah, tidak bisa direnovasi lagi, lebih baik dibuat baru karena sebagian besar berbahan kayu dan kondisinya sudah rusak,” ujarnya, Sabtu 28 Maret 2026.
Namun demikian, rencana pembangunan tersebut masih terkendala keterbatasan anggaran daerah, sehingga belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. “Untuk saat ini, melihat kondisi keuangan daerah, pembangunan baru masih belum memungkinkan. Nanti akan kita ajukan dalam Musrenbang dan kita lihat kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, pihaknya juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Kita juga akan mencoba menampung usulan DPRD agar bisa masuk melalui CSR perusahaan. Jika daerah tidak mampu, kita akan gandeng pihak swasta atau perusahaan di Kotim agar bisa peduli terhadap miniatur budaya ini,” katanya.
Menurutnya, kawasan miniatur budaya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukatif yang menampilkan kekayaan budaya daerah dalam satu lokasi. “Konsepnya seperti Taman Mini Indonesia Indah, di mana Kotim bisa dilihat secara keseluruhan melalui miniatur budaya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ke depan kawasan tersebut tidak hanya direnovasi, tetapi juga akan dikembangkan dengan penambahan fasilitas dan bangunan pendukung. “Nanti akan kita bicarakan apa saja yang perlu direhab dan mana yang harus dibangun ulang, termasuk penambahan bangunan agar lebih menarik,” ujarnya.
Pengembangan ini diharapkan mampu menjadi alternatif destinasi wisata bagi masyarakat tanpa harus pergi jauh ke luar daerah, sekaligus memperkenalkan sejarah dan budaya lokal. “Harapannya, masyarakat tidak perlu jauh-jauh. Di Sampit sudah ada miniatur budaya dan museum kayu, jadi bisa wisata sejarah atau budaya sesuai minat,” jelasnya.
Di sisi lain, pengembangan sektor pariwisata juga diarahkan ke wilayah lain, termasuk Pulau Hanibung di Kecamatan Kota Besi yang telah ditetapkan sebagai desa wisata. “Kemarin sudah kita diskusikan pengelolaannya, termasuk pengembangan Pulau Hanibung. Di sana sudah ada Desa Wisata Camba dan kelompok sadar wisata juga sudah dibentuk,” katanya.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pengembangan wisata, tidak hanya bergantung pada pemerintah semata. “Kita berharap ini juga muncul dari masyarakat, tidak hanya pemerintah. Pemerintah membantu dari sisi regulasi dan membuka peluang investasi,” tegasnya.
Dengan sistem perizinan yang kini lebih terbuka melalui OSS, pemerintah daerah mendorong masuknya investor untuk mengembangkan potensi wisata baru di Kotim. “Sekarang perizinan sudah lebih mudah, sehingga pemerintah mengundang investor untuk mengelola wilayah yang berpotensi menjadi destinasi wisata baru,” pungkasnya.
Pemerintah daerah optimistis, dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta, sektor pariwisata Kotim dapat berkembang lebih cepat dan memberikan dampak ekonomi yang luas.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post