SAMPIT – Aktivitas perdagangan di Pasar Pusat Perbelanjaan Masyarakat (PPM) Sampit kian kehilangan denyut. Sejumlah pedagang ayam yang menempati los resmi mengeluhkan sepinya pembeli akibat maraknya penjualan ayam di luar area pasar, terutama di sepanjang badan jalan sekitar kawasan PPM Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pedagang los ayam yang selama ini menjalankan usaha sesuai ketentuan. Mereka menilai, keberadaan pedagang di luar pasar tanpa penataan yang jelas membuat fungsi pasar resmi sebagai pusat transaksi bahan pangan semakin terpinggirkan.
“Kami berjualan di dalam ini resmi, bayar retribusi dan punya izin. Tapi pembeli sekarang lebih banyak ke luar karena penjual ayam bebas buka lapak di pinggir jalan,” ujar Yani, salah satu pedagang ayam di Pasar PPM, Sabtu 14 Februari 2026.
Menurutnya, persaingan yang terjadi saat ini tidak lagi sehat. Pedagang resmi harus menanggung biaya operasional, sementara pedagang di luar pasar dapat berjualan tanpa kewajiban yang sama. Akibatnya, los-los ayam di dalam pasar banyak yang kosong karena minimnya aktivitas jual beli.
Ia juga menyoroti dampak lingkungan dari penjualan ayam di tepi jalan. Limbah sisa pemotongan ayam, bau tidak sedap, serta kebersihan yang kurang terjaga dinilai mengganggu kenyamanan dan merusak citra kawasan pasar. “Kalau jualannya di jalan, sisa-sisa ayam dibuang ke mana? Bau, kotor, dan kelihatannya semrawut. Harusnya semua itu ada di dalam pasar karena di sini sudah ada tempat dan aturannya,” katanya.
Yani menyebut, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, maka pasar resmi akan semakin ditinggalkan. Padahal, fasilitas los di Pasar PPM masih tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk menampung seluruh pedagang, termasuk mereka yang saat ini berjualan di luar.
“Banyak los kosong, khususnya los ayam. Kalau ingin pasar ini hidup lagi, ya penjual di luar harus diarahkan masuk. Jangan dibiarkan di jalan terus,” tegasnya. Dari sisi ekonomi, dampaknya sangat terasa. Pendapatan pedagang ayam di dalam pasar disebut merosot drastis hingga lebih dari separuh dari kondisi normal.
“Sekarang ini penurunan bisa sampai sekitar 70 persen. Pembeli rumah tangga hampir tidak ada, paling yang datang hanya pembeli tertentu saja supaya dagangan tetap jalan,” ungkapnya. Meski demikian, Yani mengaku tetap bertahan berjualan di dalam pasar karena usaha tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarganya.
“Ini mata pencaharian kami. Mau tidak mau tetap bertahan, walaupun hasilnya jauh berkurang,” pungkasnya. Para pedagang berharap pemerintah daerah segera melakukan penataan dan penertiban secara adil, agar fungsi Pasar PPM Sampit dapat kembali optimal sebagai pusat perdagangan yang tertib, bersih, dan memberikan kepastian usaha bagi pedagang resmi.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post