SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melaporkan adanya kenaikan kembali tinggi muka air di wilayah Kecamatan Tualan Hulu pada Rabu 4 Deeember 2025.
Padahal, sebelumnya banjir yang terjadi sejak 1–2 Desember sempat mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat curah hujan di wilayah hulu masih berpotensi meningkat.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan di wilayah terdampak masih dilakukan melalui akses sungai menggunakan sampan karena sejumlah jalur darat sulit dilalui.
“Hari ini tanggal 4 Desember ada kenaikan lagi di Kecamatan Tualan Hulu. Banjir tanggal 1 hingga 2 itu sudah turun, namun sekarang naik kembali. Pelayanan kesehatan sementara menggunakan mobilitas sungai untuk mendatangi pasien-pasien di rumah,” katanya, Kamis 4 Desember 2025.
Ia menegaskan, kondisi ini sudah disampaikan kepada Bupati Kotim untuk mendapatkan perhatian khusus. Terlebih, peringatan nasional menyebutkan adanya potensi banjir rob yang diprediksi terjadi pada 6–15 Desember di wilayah selatan Kotim, khususnya yang berada di sepanjang aliran Sungai Mentaya.
“Kami berharap banjir rob ini bisa dilewati dengan baik, walaupun biasanya berlangsung 4–5 jam. Yang kami khawatirkan kalau kejadiannya malam hari, masyarakat akan kesulitan melakukan mitigasi,” ujarnya.
Multazam meminta pemerintah desa dan perangkatnya meningkatkan kesiapsiagaan serta membantu masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi kondisi yang membahayakan. Menurutnya, risiko banjir rob dapat semakin tinggi apabila bertepatan dengan hujan intens di wilayah hulu.
“Yang kita khawatirkan muka air pasang pada banjir rob itu ekstrem. Jika di hulu terjadi hujan deras, air yang harusnya mengalir bisa melambat. Beberapa anak sungai di hulu sudah naik, dan ketika terjadi hujan berulang dengan durasi panjang, itu akan menahan muka air banjir di wilayah utara,” jelasnya.
BPBD Kotim mencatat potensi banjir rob dapat terjadi merata di sepanjang aliran Sungai Mentaya, terutama di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Selain itu, kawasan rawan lainnya berada di Kecamatan Pulau Hanaut dan Mentaya Hilir Selatan.
Bahkan, dalam kejadian November lalu, banjir rob sempat meluas hingga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, termasuk Desa Pelangsian.
“Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai harus waspada, terutama rumah yang terdapat instalasi listrik. Jika banjir terjadi, listrik sebaiknya dimatikan untuk menghindari bahaya,” tegas Multazam.
Ia meminta kepala desa, ketua RT dan RW untuk aktif mengingatkan warga agar siaga pada rentang waktu 6–15 Desember tersebut. Sementara itu, banjir tertinggi di akhir November terjadi di Desa Rantau Suang, wilayah yang memiliki topografi campuran tinggi dan rendah.
“Kemarin kepala desa menyampaikan ada 56 KK yang terdampak. Bahkan ada hewan ternak yang mati. Kami ingatkan jangan menganggap ini hal biasa karena risiko korban jiwa bisa terjadi,” ungkapnya.
Banjir di Desa Rantau Suang dilaporkan mencapai lebih dari 50 cm dari permukaan jalan, bahkan tinggi genangan mencapai 1,5 meter di beberapa titik. Beruntung durasi banjir tidak berlangsung lama.
“Satu hari setengah malam sudah mulai surut,” kata Multazam.
Ia menegaskan, BPBD terus melakukan monitoring intensif terhadap perkembangan banjir di wilayah utara dan potensi banjir rob di wilayah selatan. Pihaknya juga meminta masyarakat untuk tetap waspada dan segera melapor apabila terjadi ancaman keselamatan.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post