SAMPIT — Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, mengungkapkan kondisi kelistrikan di wilayahnya masih menjadi masalah serius yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Selain sering padam hingga hitungan minggu, voltase listrik di daerah tersebut kerap turun drastis sehingga banyak peralatan elektronik tidak dapat berfungsi semestinya.
“Sering turun kekuatan listrik karena kondisi geografis. Solusinya kemarin dilakukan penguatan jaringan. Informasi dari PLN, paling lambat pertengahan 2026 bisa selesai. Tapi tadi dalam rapat, jika pembangunan tower itu mulai dikerjakan, paling lama 3 bulan sudah selesai. Ini informasi menggembirakan yang akan saya sampaikan kepada masyarakat,” ujarnya, Selasa 25 November 2025.
Ia menjelaskan, ketika terjadi pemadaman, PLN kerap mengalami kesulitan melacak titik kerusakan. Hal ini dipicu medan berat berupa hutan lebat dari Kecamatan Seranau hingga Pulau Hanaut.
“Kalau sudah mati listrik, bisa sampai 21 hari. Karena pihak PLN kesulitan mencari jaringan yang putus, apalagi saat angin kencang dan pohon tumbang,” katanya.
Menurut Fahrujiansyah, jaringan tegangan juga sering drop hingga mencapai 160–165 volt, jauh di bawah standar 220 volt. Akibatnya, kulkas tak dapat membeku, AC tidak mampu mendinginkan ruangan, hingga perangkat elektronik lain seperti laptop dan komputer sering bermasalah.
“Di kantor saya sendiri, AC hidup tapi tidak mau dingin. Lebih baik pakai kipas angin. Kulkas pun kadang tidak mampu bekerja. Masa untuk mencari es batu saja harus beli ke seberang?” tegasnya.
Ia menyebutkan, jaringan lama dari Seranau terlalu jauh dan kapasitas trafo tidak memadai. Karena itu, solusi yang kini disiapkan adalah pembangunan tower baru yang menghubungkan Bagendang, Pulau Lepeh, Desa Hanaut. Jika rampung, aliran listrik akan langsung masuk dari Bagendang dan tidak lagi mengandalkan jalur lama.
“Nanti jaringan dari Seranau diputus, sehingga aliran listrik otomatis dari Bagendang. Insyaallah nanti normal. Ke depan, rencana kabel juga akan menyeberang sampai Desa Hantipan hingga Mendawai dan Katingan,” ujarnya.
Selain peningkatan kualitas listrik, ia juga memperjuangkan agar desa-desa yang belum menikmati penerangan segera mendapat pemasangan. Beberapa di antaranya Dusun Andi Londo, Dusun Gerombol, Desa Bantian, dan Handil Mawar.
“Pulau Hanaut sudah terisolasi dari infrastruktur jalan, masa listrik juga tidak menikmati? Indonesia sudah 80 tahun merdeka. Kami sebagai perpanjangan tangan pemerintah tetap mengusulkan kebutuhan masyarakat dengan dukungan anggota DPRD Dapil 3,” jelasnya.
Di sisi lain, lemahnya listrik juga menghambat pelayanan publik, termasuk rencana pembangunan mesin ATM Bank Kalteng di area Kantor Kecamatan.
“Bank Kalteng sebenarnya setuju memasang ATM setelah survei. Tapi kendalanya, alat pemancar mereka butuh arus listrik yang benar-benar stabil. Karena listrik kita masih drop, ATM belum bisa dipasang. Kalau nanti normal, insyaallah bisa terealisasi,” kata Fahrujiansyah.
Dengan hadirnya tower baru dan komitmen PLN mempercepat pembangunan, ia berharap masyarakat Pulau Hanaut segera mendapatkan listrik yang layak dan stabil, sekaligus akses layanan perbankan yang lebih mudah.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post