Warga di 17 Desa di Kotim Terdampak Banjir Masih Bertahan di Rumah

SAMPIT – Banjir yang melanda wilayah utara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sudah ada 17 desa di enam kecamatan yang terdampak, dengan ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga lebih dari 1 meter.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan banjir pertama kali terpantau di Desa Sei Ubar Mandiri, Kecamatan Cempaga Hulu. “Awalnya yang terendam badan jalan sehingga mengganggu distribusi. Sekarang sudah mulai surut, tetapi ada potensi naik lagi. Misalnya di Desa Bajarau dalam 24 jam naik dari 65 menjadi 95 sentimeter,” ujarnya, Sabtu 13 September 2025.

Baca juga berita lainnya

Multazam menambahkan, akses jalan juga banyak yang terendam dan sulit dilalui. Dari Tanjung Jariangau ke Kuala Kuayan ada 7,3 kilometer yang tergenang. Beberapa segmen jalan tidak bisa difungsikan karena air cukup tinggi. Hal ini tentu berdampak pada jalur distribusi barang maupun aktivitas warga.

Menurutnya, banjir kali ini memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam hitungan jam, air bisa langsung sejajar dengan tanah. “Cepat naik, cepat surut. Ini yang membuat risiko tinggi karena banjir bisa datang tiba-tiba tanpa memberi kabar. Warga harus lebih waspada,” tambahnya.

Meski banjir sudah meluas, Multazam menegaskan hingga kini warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing. “Belum ada laporan warga yang mengungsi. Kebanyakan tetap di rumah sambil memantau perkembangan air. Namun kami tetap menyiapkan langkah antisipasi bila sewaktu-waktu dibutuhkan tempat pengungsian,” terangnya.

BPBD juga sudah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk memantau langsung kondisi desa terdampak. “Tim kami baru meluncur ke Desa Beringin Tunggal Jaya di Kecamatan Parenggean. Di sana ketinggian air bervariasi, mulai 20 sentimeter hingga 70 sentimeter. Ini akibat intensitas hujan tinggi di wilayah utara,” ungkap Multazam.

Ia menambahkan, laporan dari camat dan kepala desa sangat penting agar penanganan bisa lebih cepat. “Kami berharap perangkat desa aktif melaporkan perkembangan. Informasi ini sangat menentukan dalam kaji cepat dan langkah yang harus diambil. Kadang laporan hanya berupa foto tanpa data lengkap, padahal jumlah rumah dan KK terdampak itu sangat krusial,” ucapnya.

Selain berfokus pada pemantauan, BPBD juga terus berkoordinasi dengan lintas sektor untuk memastikan jalur distribusi barang kebutuhan sehari-hari tetap berjalan. “Kita ingin memastikan tidak ada kendala dalam pasokan pangan maupun kebutuhan dasar masyarakat,” pungkas Multazam.

(dia/matakalteng)

ad-space

Berita Terkait

Next Post

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR