SAMPIT – Penetapan status siaga darurat banjir selama 48 hari di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat meningkatkan kesiapsiagaan. Meski demikian, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengakui keterbatasan peralatan dan personel masih menjadi tantangan besar dalam menghadapi potensi banjir yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober 2025.
“Status siaga sudah ditetapkan mulai 12 September sampai 29 Oktober 2025. Peralatan kita dalam kondisi serviceable, artinya siap dipakai. Tapi dari sisi jumlah memang belum mencukupi, sementara jangkauan area penanganan cukup luas,” kata Multazam, Sabtu 13 September 2025. Dia menjelaskan, keterbatasan tersebut membuat strategi penanganan harus lebih efisien, terutama dalam hal mobilisasi tim dan logistik.
“Personel kami juga terbatas. Misalnya saat kami melakukan kaji cepat di beberapa desa, itu terpaksa dilakukan paralel dan hasilnya tidak maksimal. Jadi kami sangat berharap kontribusi para kepala desa, camat, hingga masyarakat sekitar bantaran sungai untuk ikut waspada,” ujarnya. Meski keterbatasan ada, BPBD tetap berupaya meningkatkan koordinasi lintas sektor.
Menurut Multazam, dukungan TNI-Polri melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas di desa-desa menjadi sangat penting untuk menutup celah kekurangan personel. “Alhamdulillah dari TNI dan Polri juga menyatakan siap membantu dengan SDM mereka yang tersebar di wilayah terdampak. Dengan begitu koordinasi bisa ditingkatkan, apalagi saat libur sekalipun kami tetap siaga,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Pihaknya selalu mengingatkan agar warga mengamankan barang-barang berharga dan surat penting, karena banjir bisa saja naik mendadak di malam hari. “Kalau siang masih bisa dipantau, tapi kalau malam bisa menimbulkan kepanikan,” jelas Multazam.
Selain kesiapan teknis, ia mengingatkan bahwa banjir di Kotim bersifat fluktuatif dan kadang datang tanpa tanda-tanda. “Beberapa desa dalam hitungan jam bisa berubah drastis. Selasa lalu kondisi masih aman, tapi Kamis sudah rata antara permukaan tanah dengan air sungai. Ini menunjukkan betapa tiba-tibanya banjir datang tanpa kompromi. Karena itu komunikasi antar desa sangat penting agar peringatan bisa segera diteruskan,” ungkapnya.
Multazam berharap dengan status siaga darurat ini, semua pihak bisa bergerak bersama. “Kami tetap waspada sampai akhir September sesuai prediksi BWS Kalimantan II yang menyebut cuaca ekstrem masih mungkin terjadi. Mudah-mudahan perlengkapan dan SDM yang ada bisa dimaksimalkan, dan dengan dukungan semua pihak, kita bisa melewati situasi ini tanpa korban jiwa,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post