SAMPIT – Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMPP) Kotawaringin Timur (Kotim), Johny Tangkere, menyoroti persoalan persaingan harga ayam potong yang kian tidak sehat di pasaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya pemotongan ayam yang dilakukan di luar tempat resmi dan tidak diawasi.
“Kalau harga ayam lebih murah, kita harus cari tahu penyebabnya. Ini bisa jadi karena banyak tempat pemotongan yang tidak punya izin limbah dan sebagainya. Itu yang membuat harga bisa ditekan tapi persaingannya tidak sehat,” ujar Johny, Rabu 6 Agustus 2025.
Ia menjelaskan, penanganan persoalan ini sebenarnya berada di ranah Dinas Pertanian. Namun, Johny menilai kelemahan utama yang dihadapi daerah saat ini adalah belum adanya rumah potong unggas (RPU) yang memadai di Kotim.
“Seharusnya minimal ada dua atau empat tempat pemotongan unggas resmi. Semua ayam dipotong di situ, tidak boleh lagi ada pemotongan di rumah-rumah. Ini supaya limbah, bau, dan lain-lain bisa teratasi. Selain itu, pemotongan ayam juga terjamin kehalalannya karena ada pengawasan,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika seluruh proses pemotongan dilakukan di RPU, pengawasan terhadap kebersihan, pengelolaan limbah, hingga standar halal akan lebih mudah dilakukan. Hal ini secara tidak langsung juga akan membantu menstabilkan harga ayam di pasaran.
Johny mengungkapkan, sejak dirinya bertugas di Dinas Perizinan, ia sudah mengusulkan pentingnya pembangunan rumah potong unggas di Kotim. Mengingat setiap hari ribuan ekor ayam dipotong untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Pembangunan RPU ini sebenarnya tidak ada kendala. Bahkan kemarin sudah dicatat oleh Ibu Wakil Bupati bersama Sekda. Kemungkinan di tahun 2026 sudah akan dibangun,” ujarnya optimistis.
Ia berharap pembangunan RPU ini menjadi prioritas pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem distribusi ayam potong yang lebih sehat, teratur, dan menguntungkan masyarakat.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post