SAMPIT – Satu nyawa telah melayang, namun tiang listrik tak kunjung berdiri di Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga. Kabel-kabel PLN masih menjuntai di tanah, melintasi genangan air, dan menggantung rendah di sepanjang jalan desa. Warga bertanya-tanya, sampai kapan kondisi ini dibiarkan?
Sudah bertahun-tahun Pemerintah Desa Luwuk Bunter memperjuangkan jaringan listrik yang aman dan layak. Kepala Desa Kurnain menceritakan bagaimana berbagai upaya telah dilakukan, dari menyurati PLN di Kalimantan Tengah hingga membawa aduan ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
“Bahkan saya bersama Wakil Bupati Kotim sudah pernah langsung menyampaikan kondisi ini ke pihak PLN di Banjarbaru. Tapi sampai sekarang, tiang listrik pun tak ada satu pun yang berdiri di jalur desa kami,” keluh Kurnain, Rabu 9 Juli 2025.
Menurutnya, kabel PLN saat ini disambungkan dari rumah ke rumah, menggantung rendah tanpa tiang penyangga. Beberapa bahkan menjuntai ke tanah dan menyentuh genangan air. Dalam kondisi itu, bahaya seperti menunggu waktu.
Dan waktu itu pernah datang, seorang warga meninggal dunia tersengat listrik dari kabel yang seharusnya tidak berada di sana.
“Kami kehilangan satu nyawa karena kabel yang tidak sesuai standar. Ini bukan sekadar keluhan teknis, tapi sudah menyangkut nyawa manusia,” tegasnya.
Pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Kabel listrik tampak semrawut, banyak yang melintasi jalur pejalan kaki hingga tergantung di depan rumah warga.
Tak sedikit anak-anak sekolah terlihat menyentuh kabel-kabel itu dengan polosnya, tanpa tahu bahaya yang mengintai mereka.
Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Hero Harapanno Mandouw yang turun langsung ke lokasi, menyatakan keprihatinannya. Ia menilai masalah ini sudah sangat mendesak dan PLN tak boleh tinggal diam.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal keselamatan warga. Saya minta PLN segera bertindak, apakah melalui ULP Sampit atau Banjarmasin. Harus ada langkah konkret,” kata Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kalteng itu.
Ia juga menyatakan akan membawa laporan ini ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalteng agar menjadi perhatian serius.
“PLN harus bertanggung jawab. Sudah ada korban jiwa, itu cukup untuk jadi alarm. Kalau tidak bisa bangun tiang listrik sekarang, paling tidak rapikan dulu kabel-kabel yang ada. Jangan tunggu ada korban berikutnya,” tegasnya.
Desa Luwuk Bunter hari ini masih hidup di antara kabel-kabel yang mengancam, sambil berharap ada keberpihakan dari mereka yang punya kuasa atas aliran listrik di negeri ini.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post