SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berupaya membangun ketangguhan menghadapi bencana melalui pembentukan budaya tanggap di semua lini. Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor saat membuka pelatihan Indeks Ketahanan Daerah (IKD) 2025 yang digelar bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa 3 Juni 2025.
“Pelatihan ini penting karena seluruh daerah di Indonesia harus memiliki ketahanan daerah. Artinya, ketika terjadi bencana seperti banjir, longsor, atau kebakaran, seluruh elemen langsung bisa bergerak cepat. Itulah makna dari tanggap,” ujar Halikinnor, Selasa 3 Juni 2025.
Ia menegaskan, meski Kotim tidak berada di zona rawan gunung meletus atau gempa bumi secara ekstrem, namun tidak berarti bebas dari ancaman. Perubahan dinamika geologis kini terasa hingga ke wilayah yang dulunya relatif aman. Karena itu, kata dia, kesiapsiagaan harus ditanamkan sebagai budaya, bukan sekadar respons insidental.
“Dulu kita tak merasakan gempa, sekarang sudah mulai terasa. Kita tidak tahu posisi lempeng bawah laut itu di mana. Maka kita tetap harus siaga. Dan kalau kemarau, kita hampir pasti hadapi asap. Daerah kita ini gambut dan rawa,” jelasnya.
Menurut Halikinnor, kemampuan merespons cepat terhadap kejadian adalah penilaian utama dalam indeks ketahanan daerah. Ia mencontohkan penanganan kebakaran baru-baru ini, yang langsung diikuti penyaluran bantuan hanya beberapa jam setelah kejadian.
“Yang dinilai adalah bagaimana daerah bisa segera bergerak. Informasi kebakaran malam hari, pagi bantuan sudah dikirim. Itu bukti daerah tanggap. Harapan kita, seluruh stakeholder, baik vertikal maupun daerah, bersatu dan saling mendukung,” tegasnya.
Pemkab Kotim, lanjutnya, menargetkan peningkatan skor IKD tahun ini dengan memastikan seluruh unsur mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga media membangun sistem kolaborasi untuk kesiapsiagaan bencana secara menyeluruh.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post