SAMPIT – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berharap ketika pembangunan pabrik pakan di kecamatan Parenggean nantinya sudah operasional, bisa menyerap hasil pertanian jagung yang ada di Kabupaten Kotim sebagi bahan dasar pembuatan pakan. Sehingga membantu mensejahterakan para petani jagung.
“Karena idealnya memang untuk hasil panen jagung diserap oleh industri seperti salah satunya pabrik pakan. Namun karena saat ini di kabupaten Kotim masih belum ada yang menyerap hasil panen jagung, maka Bulog berperan sebagai stand by buyer untuk memastikan semua hasil panen jagung terserap,”kata Kepala Bulog Kotim, Muhammad Azwar Fuad, Minggu 6 April 2025.
Untuk itu lanjutnya, ketika pabrik pakan yang ada di kecamatan Parenggean nantinya sudah operasional diharapkan hasil panen jagung bisa dijual terlebih dahulu ke pabrik pakan tersebut.
“Jika nantinya pabrik pakan itu tidak mampu lagi menampung, baru Bulog akan menyerap sisanya. Sehingga semua hasil panen tetap terjual, dan petani tidak ada yang merugi,”ujarnya.
Dirinya juga menyampaikan, tidak lama lagi perkebunan jagung yang ada di Jalan Jendral Sudirman km 6 Sampit akan memasuki masa panen dengan luasan kebun lebih dari dua hektare.
Sehingga diperkirakan hasil panen lebih banyak dibandikan pembelian pertama oleh Bulog di Kecamatan Parenggean seberat 1 ton 200 kg lebih.
“Selain membantu petani dengan menyerap hasil panen, kami sebenarnya mau mendorong bersama Dinas Pertanian Kotim untuk pengadaan bantuan mesin pembuat beras jagung. Jadi, setelah dipipil masih bentuk butiran-butiran jagung, bisa langsung diolah jadi beras jagung. Karena untuk dijual di pasaran biasanya juga sudah berupa beras jagung,”ucapnya.
Sehingga kata Fuad, harga jual dari petani akan meningkat. Yang mana jika dalam bentuk pipil dibeli oleh Bulog diharga Rp 5.500 sesuai instruksi Badan Pangan Nasional.
Sementara jika sudah jadi bentuk beras jagung, maka harga jual akan naik menjadi Rp9.000 sampai Rp10.000.
“Artinya si petani akan dapat nilai tambah yang cukup besar kalau memang itu bisa diolah menjadi beras jagung menggunakan alat khusus tersebut. Jadi mereka (petani), nanti jualnya sudah dalam bentuk beras jagung supaya harganya meningkat bukan yang pipilan lagi,” tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post