SAMPIT – Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia Taufiq A Gani mengatakan, transformasi perpustakaan dapat dibangun dalam dua pendekatan yaitu pengembangan akses berbasis digital dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk membangun produktivitas masyarakat.
“Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat sehingga juga mempengaruhi tingkat literasi di suatu daerah,”ujarnya, Sabtu 8 Februari 2025. Menurutnya, literasi menjadi hak yang fundamental dan esensial untuk kemajuan bangsa. Literasi kuat berdampak pada nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi, penguatan sosial politik, wawasan kebangsaan dan kohesivitas sosial masyarakat.
“Paradigma perpustakaan menjangkau masyarakat merupakan upaya pemenuhan hak masyarakat atas layanan perpustakaan dalam meningkatkan kualitas hidup dan kewajiban pemerintah menjamin layanan perpustakaan bagi masyarakat, berdasarkan undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Dan inilah yang perlu kita dorong dan kembangkan sampai pelosok,”tegasnya.
Tambahnya, Perpustakaan Nasional sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang memiliki visi perubahan di tahun 2025 yakni perpustakaan hadir demi martabat bangsa serta memiliki tugas untuk penyelenggaraan negara bidang perpustakaan nenjadi leading sector penguatan literasi masyarakat.
“Visi perubahan tersebut memprioritaskan tiga program Perpustakaan Nasional pada tahun 2025 yakni penguatan budaya baca dan kecakapan literasi, pengarus-utamaan naskah Nusantara serta standarisasi dan akreditasi perpustakaan,”tutupnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post