SAMPIT – Jalan sehat bersama Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H Sugianto Sabran yang dilaksanakan di Taman Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) banyak menuai kritikan lantaran lamanya waktu pengundian kupon hingga menyebabkan banyak warga yang pingsan.
Dari pantauan matakalteng dilapangan, ada 20 warga yang pingsan dan 11 orang yang dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit. Diduga peserta jalan sehat ini kekurangan oksigen dan kambuhnya penyakit asam ketika berdesakan pada jalan sehat tersebut. Kemudian juga ada peserta yang berkelahi ketika pelaksanaan pengundian nomor berlangsung.
“Selain rute jalan sehat yang terlalu jauh pengambilan kupon juga dilakukan di lokasi yang sama sehingga membuat masyarakat berjejalan,” kata seorang warga bernama Yasir, Minggu 10 November 2024. Meski kegiatan jalan sehat dijadwalkan dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB, namun masyarakat yang datang sudah mulai memadati Taman Kota Sampit sejak pukul 05.00 WIB karena berharap akan mendapatkan kupon lebih cepat.
“Namun ternyata sampai siang ini saja saya masih belum mendapatkan kupon padahal pengundian sudah berlangsung hingga pukul 10.50 WIB kami masih belum mendapatkan kupon. Disampaikan bahwa kupon dibagikan pada saat melaksanakan jalan sehat namun sampai garis finish kami tidak mendapatkannya. Kami kecewa kepada panitia,” kata warga lain bernama Ningsih.
Padahal lanjutnya dia sudah datang beramai-ramai bersama komunitas sanggar senam namun semuanya juga tidak mendapatkan kupon gratis tersebut. Apalagi menurut Ningsih dari informasi banyak warga yang mendapatkan kupon malahan di salah satu posko pemenangan pasangan calon.
“Yang di lokasi malah tidak dapat, warga yang ke Posko pemenangan malah dapat dan kata mereka syarat pengambilan kupon itu menggunakan KTP ataupun kartu keluarga,” bebernya. Selain keluhan tidak mendapatkan kupon serta berjejalnya warga yang datang, keluhan lain juga disampaikan lantaran lamanya waktu pengundian hingga pukul 09.00 WIB.
Bahkan akibat lamanya serta banyaknya masyarakat yang datang, membuat banyak anak terpisah dengan orangtuanya. Setidaknya ada hampir 10 anak yang terpisah dengan orangtua yang diumumkan panitia pelaksana di panggung utama. Anak yang terpisah dengan orangtuanya itu berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan dari usia 4 tahun hingga 8 tahun.
Disamping itu berdasarkan pantauan pula ada terjadinya perkelahian lantaran senggol menyenggol saat berdesakan mencari tempat duduk untuk menunggu undian. Keluhan lain bermunculan setelah pada pukul 10.30 WIB panitia mengumumkan bahwa nomor undian kupon yang memenangkan hadiah akan diumumkan atau dicantumkan pada media sosial serta koran harian setempat.
“Jika tahu akan diumumkan seperti itu lebih baik Kami datang untuk menyobek kupon saja dan langsung pulang, tidak perlu menunggu sampai siang seperti ini. Ujung-ujungnya tidak bisa mendengar dengan jelas juga, undian yang dibacakan dan malah disuruh melihat di koran keesokan harinya,”ucap warga lain, Putri.
Bahkan menurutnya jika nomor undian kupon yang memenangkan hadiah dilakukan Pengumuman pada koran ataupun media sosial keesokan harinya hal itu terkesan pengundian kurang transparan lantaran tidak disaksikan peserta lainnya karena sudah banyak yang pulang dan sound system juga kurang memadai Untuk menjangkau banyaknya masyarakat yang datang.
“Karena tidak semua muat berada di dekat panggung untuk mendengarkan pengumuman kebanyakan ada yang di dalam sampai ada juga yang di belakang panggung yang berada di Taman Kota Sampit agar tidak berjejal. Jika dipaksakan berjejal di dekat panggung sudah dipastikan akan lebih banyak yang pingsan,”tutupnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post