SAMPIT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) akan lakukan intervensi pasar untuk menekan angka inflasi. Pasalnya, Kotim menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Juni 2024.
“Kotim kalau secara nasional masih tidak terlalu tinggi, kita masih berada di rangking 73, ” kata Kepala Bagian Perekonomian Setda Kotim Bahalap, Senin, 22 Juli 2024.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, pada Juni 2024 terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 2,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,66. Inflasi tertinggi terjadi di Sampit sebesar 2,51 persen dengan IHK sebesar 105,98. Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran.
“Kita akan melakukan intervensi pasar lagi, seperti melakukan pasar murah atau penyeimbang.Kemudian memberdayakan lagi kelompok tani kita untuk memenuhi komoditi. Dengan tersedianya sejumlah komoditi, angka inflasi bisa ditekan. Sedangkan kalau yang sifatnya nasional kaya tembakau itu harus rujukan nasional, kita akan minta pada nasional,” terangnya.
Dijelaskan, di Kalteng ada empat daerah yang masuk dalam Indeks Perkembangan Harga (IPH) salah satunya Kotim. Tiga daerah termasuk Kota Palangka Raya meski produk lokal mereka terbatas namun selalu tersedia karena dipasok dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Mereka dekat dengan Banjarmasin. Mayoritas distribusinya dari Banjar meski produk lokal terbatas tapi produk Banjar berlimpah,” ujarnya.
Lanjutnya, di Kabupaten dari sisi pertanian hasil produksinya selain dipengaruhi oleh cuaca, jika cuaca mendukung hasil produksi pertanian bagus dan ketersediaan sejumlah komoditi berlimpah. Namun jika tidak, maka komoditi tersebut jumlah terbatas dan itu mempengaruhi harga. Oleh sebab itu, pihaknya menggenjot agar pertanian kita diberikan subsidi.
“Yang mempengaruhi inflasi adalah pupuk. Di Kotim harga pupuk mahal. Jadi itu yang menyebabkan harga komoditi naik pengaruh dari harga pupuk,” tegasnya.
Meski Kabupaten Kotim memiliki akses cukup mudah untuk memasok pupuk dari Pulau Jawa, karena Kotim memliki pelabuhan. Namun penggunaan pupuk subsidi dinilai kurang tepat sasaran. Sehingga perlunya pengawasan dari dinas terkait untuk distribusi pupuk subsidi tersebut.
“Makanya pupuk subsidi ini perlunya pengawasan dari Dinas Pertanian, paling tidak pupuk subsidi ini bisa digunakan secara tepat yaitu benar-benar diperuntukkan bagi kelompok tani kita. Bukan ke luar, itu yang perlu diawasi saat ini,” ungkapnya.
Diketahui, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,04 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,36 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,10 persen.
Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,64 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,64 persen, kelompok transportasi sebesar 0,70 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,32 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,39 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,06 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,00 persen
(dev/matakalteng)




















Discussion about this post