SAMPIT – Sekretaris Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur (Kotim) Ali menyampaikan, remaja putri paling rentan terkena anemia terutama ketika tidak rutin mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD). Bahkan menurut WHO prevalensi anemia pada wanita di Indonesia yaitu sebesar 23,9%, yang terbagi dari prevalensi anemia pada wanita umur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan umur 15-25 tahun sebesar 18,4%.
“Dan data kami di Kotim rata-rata memang 30% remaja putri mengalami anemia. Hal itu juga berkaitan dengan siklus biologi yang mereka alami yaitu haid,”ujarnya, Jumat 19 Juli 2024.
Ketika asupan gizi kurang kata Ali, maka resikonya adalah anemia, dan resiko anemia ini akan berakibat terhadap kesehatan diri maupuan pada saat melangsungkan hidup lebih lanjut seperti kehamilan dan lainnya sangat beresiko terhadap kesehatan dan keturunannya.
“Anemia yang tinggi kemungkinan karena kesadaran anak-anak mengkonsumsi gizi secara berimbang kurang. Kita tahu mungkin banyak sumber alam yang bisa dimanfaatkan seperti sayur mayur yang disini banyak ditemukan yakni bayam dan kelakai. Itu kandungan gizinya cukup tinggi, tapi karena perilaku rata-rata remaja ini kurang kesadaran mengkonsumi itu sehingga banyak mengalami kekurangan sel darah,”jelasnya.
Ia juga menyampaikan, perilaku suka memakan makanan cepat saji juga tanpa disadari bisa mengakibatkan anemia pada usia remaja karena kandungan gizi yang tidak seimbang.
“Maka dari itu pemerintah menganjurkan konsumsi tablet tambah darah, utamanya untuk remaja putri, sebanyak satu kali dalam seminggu. Hal ini akan mencegah terjadinya anemia pada remaja, dan tentu tubuh akan lebih siap saat menstruasi karena asupan zat besi telah rutin dikonsumsi tiap minggunya. Remaja putri bisa minum tablet tambah darah mulai usia 12-18 tahun,”pungkasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post