SAMPIT – Pemerintah daerah (Pemda) Kotawaringin Timur (Kotim) berharap Forum Koordinasi Umat Beragama dapat menekan isu-isu yang dapat memecah belahkan masyarakat terutama jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2024.
“Kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk atau heterogen, menyadari bahwa masyarakat sangat rentan terhadap konflik dan perpecahan yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan adat- istiadat),” kata Asisten 1 Setda Kotim, Ritel, Senin 15 Juli 2024.
Itu ia sampaikan saat dirinya mewakili Bupati Kotim membuka Sosialisasi Kerukunan Umat Beragama di Kotim tahun 2024.
Disampaikan, isu-isu yang bernuansa politis yang sengaja dimanfaatkan untuk membuat gejolak yang mengarah kepada tindakan anarkis dan kerusuhan atau konflik horizontal.
Apalagi di masa-masa saat ini menjelang Pilkada yang akan segera dilaksanakan di Kotim, akan banyak gejolak yang terjadi seperti politik uang, kampanye hitam, kekerasan dan intimidasi, ketidaknetralan aparat serta polarisasi sosial.
Pemilihan yang memicu perpecahan dan polarisasi di masyarakat berdasarkan SARA bisa memicu ketegangan dan konflik sosial. Padahal disadari atau tidak, setiap gejolak, apalagi sampai menjadi konflik yang anarkis, bukan saja merepotkan pemerintah, tetapi akan mengakibatkan kesengsaraan berkepanjangan bagi masyarakat luas.
“Oleh sebab itu FKUB Kotim ini kita harapkan bisa menjadi forum untuk mempererat silaturrahmi antar umat beragama, sekaligus mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul secara bijak dan fikiran jernih, yang nantinya bermuara pada keharmonisan, ketertiban, dan ketenteraman seluruh masyarakat,” ujarnya.
FKUB ini bukan dibentuk oleh pemerintah, tetapi dibentuk oleh masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah. Sebab umat beragama bukanlah objek, tetapi menjadi subjek atau pelaku utama dalam upaya memelihara kerukunan nasional. Sehebat apapun program pemerintah untuk mewujudkan ketertiban dan ketenteraman, jika tidak didukung oleh masyarakat maka tidak akan memiliki arti apa-apa.
FKUB ini menjadi mitra pemerintah dalam melakukan pembinaan- pembinaan terhadap umat beragama, yang hubungannya bersifat konsultatif.
Lanjutnya melalui para tokoh agama yang tergabung dalam FKUB bisa menjadi pemuka masyarakat di lingkungannya masing-masing, diharapkan nilai-nilai kebersamaan dan jati diri bangsa yang santun, penuh toleransi serta prinsip-prinsip musyawarah dan kekeluargaan dalam menyelesaikan berbagai masalah, dapat ditumbuhkembangkan.
Dirinya berharap semua umat beragama di daerah ini dan di seluruh tanah air pada umumnya dapat melaksanakan ibadah dengan baik, dengan tetap menunjukkan sikap toleransi yang tinggi.
” FKUB sangat diharapkan mampu menjembatani upaya-upaya dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan beragama, khususnya di Kabupaten Kotim sehingga tercipta daerah yang damai, aman dan tentram, ” harapnya.
(dev/matakalteng)






















Discussion about this post