SAMPIT – Kepala Dina Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Machmoer menyebut, masalah sampah terutama organik dapat diminimalisir dengan inovasi Biodigester.
“Kami bertemu dengan mereka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mereka ada inovasi sampah di luar non medis digunakan untuk gas metana,” katanya, Kamis, 11 Januari 2024.
Disampaikannya, inovasi pemanfaatan limbah organik menjadi gas metana yaitu Biodigester. Alat itu merupakan alat yang digunakan untuk mengubah limbah organik menjadi biogas. Biogas itu sendiri merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari memasak hingga kebutuhan listrik.
“Gas metana atau biogas tadi itu digunakan untuk masak. Sebanyak 100 kg sampah bisa menghasilkan gas untuk 3 kompor, prosesnya dengan waktu 5 jam. Mudah-mudahan pendekatan mudah-mudahan 2024 bisa melakukan inovasi sama hanya dengan yang KLHK untuk penanganan masalah sampah,” ujarnya.
Mengingat banyaknya limbah organik yang dihasilkan oleh masyarakat khususnya di daerah Kotim maka akan sangat bermanfaat jika limbah organik tersebut diolah menjadi produk yang bernilai seperti biogas dengan menggunakan alat berupa biodigester.
Disampaikan, inovasi itu tidak terlalu banyak makan biaya karena alat yang digunakan hanya berupa profil, pipa biasa, diperkirakan harganya sekitar Rp200 juta.
“Saya langsung lihat pipa yang digunakan pun tidak pipa yang mahal bukan pipa PDAM jenis pipa hitam, tapi hanya jenis pipa biasa. Karena yang di bawanya bukan api hanya gas. Sehingga kami berharap sebelum pabrik pengolahan limbah medis dibuat, inovasi ini sudah ada untuk menangani masalah sampah kita,” timpalnya.
Sebelumnya, Machmoer menyebut produksi sampah domestik atau rumah tangga mencapai 276 meter kubik (M³) per harinya di wilayah itu. Hal tersebut dampak dari jumlah penduduk Kotim yang terus meningkat dan pola hidup saat ini.
Disebutnya, berdasarkan data autentik yang dilaksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat, sampah domestik yang dihasilkan sekitar 276 meter kubik(m³) dalam sehari. Sedangkan lahan yang diperlukan untuk menampung sampah dengan jumlah tersebut sekitar 46 meter persegi (m²) .
Sehingga kalau dikalikan 1 tahun yaitu 300 hari berarti Kotim harus mempunyai lahan sekitar 13.800 m². Penumpukan sampah dengan tinggi 6 m. Jika hal ini terus berlanjut dan tidak ada penanganan, maka tidak akan ada lagi lahan untuk menampung sampah.
(dev/matakalteng)





















Discussion about this post