SAMPIT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) telah merencanakan untuk menurunkan status kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari tanggap darurat menjadi transisi darurat ke pemulihan.
“Sekarang belum kita putuskan karena masih akan kita sampaikan kepada pimpinan hasil rapat evaluasi karhutla hari ini, ” kata Asisten I Setda Kotim, Rihel, Senin, 23 Oktober 2023.
Itu ia sampaikan saat dirinya mewakili Bupati Kotim Halikinnor memimpin rapat evaluasi karhutla di wilayah tersebut di ruang Pusdalop Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jalan Jendral Sudirman, Sampit.
Disampaikan Rihel, saat rapat evaluasi ada dua alternatif status pertama penetapan status transisi darurat karhutla ke pemulihan tahun 2023 selama 14 hari yaitu dari 24 Oktober sampai 6 November 2023. Kedua selama 30 hari yaitu dari 24 Oktober sampai 22 November 2023.
“Penurunan status ini berdasarkan pertimbangan terutama dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan beberapa hari ke depan mulai ada hujan,” sebutnya.
Dijelaskannya, berdasarkan perkiraan BMKG sejak rapat evaluasi karhutla minggu lalu yaitu Senin 16 Oktober 2023, tidak ada perubahan untuk perkiraan cuaca ditambah lagi potensi hujan cukup deras untuk Kotim. Sehingga titik panas maupun ISPU di wilayah setempat turun.
“Sejak beberapa hari yang lalu hotspot dan ISPU di Kotim sudah turun, karena disebagian besar wilayah Kotim sudah diguyur hujan. Sehingga karhutla mulai dapat dikendalikan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kotim, Multazam K Anwar menyebutkan, Bupati Kotim, Halikinnor, telah menyetujui penetapan status transisi darurat karhutla ke pemulihan tahun 2023 tersebut.
“Status karhutla kita saat ini yaitu transisi darurat karhutla ke pemulihan tahun 2023 selama 14 hari yaitu dari 24 Oktober sampai 6 November 2023,” sebutnya.
Sejauh ini diperkirakan luas lahan yang terbakar di Kotim mencapai seribu hektar lebih. Itu yang tercatat oleh BPBD dan ditangani pihaknya. Pihaknya akan kembali mendata lahan yang terbakar karena masih ada lokasi yang belum dilakukan pemetaan.
“Angka ini bukan terakhir, karena angka ini pasti kami update karena ada beberapa lokasi kejadian yang belum kamu lakukan pemetaan karena cukup luas cukup luas,” sebutnya.
Namun disampaikan Multazam, sejak beberapa hari ini karhutla di wilayah Kotim telah nihil. Karena pada dasarian III Oktober ini potensi hujan mulai ada sehingga hotspot mulai turun.
“Setelah 14 hari nanti akan kami evaluasi lagi. Sekarang kami tengah mempersiapkan untuk lainnya. Kita tidak berharap bencana lainnya datang seperti banjir, tapi kita tidak boleh kecolongan,” pungkasnya.
(dev/matakalteng.com)




















Discussion about this post