SAMPIT – Remaja putri merupakan salah satu dari kelompok sasaran yang perlu menjadi perhatian di kesehatan untuk mencegah anak lahir stunting. Pada remaja putri ini, yang menjadi program prioritas adalah pemberian tablet tambah darah (TTD) dan rutin screening anemia.
“Penyakit terkait dengan gizi juga cukup tinggi terjadi Indonesia, terutama kasus anemia. Kementerian kesehatan berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2018 melaporkan bahwa kasus anemia pada anak usia lima sampai 14 tahun di Indonesia sebesar 26,8% dan pada usia 15 sampai 24 tahun sebesar 32%. Ini berarti sekitar tiga dari 10 anak Indonesia menderita anemia,”kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Timur (Kotim) Umar Kaderi melalui, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr Noorliyana, Senin, 16 Oktober 2023.
Lanjutnya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi anemia, seperti pendidikan gizi seimbang, fortifikasi pangan, dan suplementasi tablet tambah darah (TTD).
“Selain mengandung zat besi TTD mengandung asam folat yang diperlukan untuk mencegah kecacatan saat mengandung anak suatu hari nanti. Untuk itu, setiap remaja putri dianjurkan mendapat 48 kapsul untuk satu tahun, dan disarankan minum satu tablet per minggu selama 1 tahun,”jelasnya.
Pemerintah menganjurkan konsumsi tablet tambah darah, utamanya untuk remaja putri, sebanyak satu kali dalam seminggu. Hal ini akan mencegah terjadinya anemia pada remaja, dan tentu tubuh akan lebih siap saat menstruasi karena asupan zat besi telah rutin dikonsumsi tiap minggunya.
“Mulai kapan remaja putri bisa minum tablet tambah darah? Yaitu mulai usia 12-18 tahun , rata- rata ketika duduk di bangku SMP atau SMA,”pungkasnya.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post