SAMPIT – Akibat banjir yang merendam sejumlah perkebunan milik warga di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan sekitarnya, membuat para petani khususnya petani sayur mayur gagal panen. Bahkan membuat kelangkaan sayur mayur di pasaran.
Salah seorang petani sayur di Kota Sampit Mardi mengatakan, ia menanam sayuran jenis bayam dan sawi, namun karena hujan lebat yang terus mengguyur Sampit membuat lahan pertanian miliknya kebanjiran sehingga sayuran menjadi rusak.
“Sayuran memang belum dipanen karena belum saatnya, namun sudah ada sebagian yang siap panen. Karena banjir akhirnya semuanya rusak dan tidak bisa dipanen sama sekali, jadi kami juga tidak bisa menjual ke pasar,” ujarnya, Minggu 22 Mei 2022.
Menurutnya, kondisi itu tentu merugikan para petani khususnya petani yang berada di sekitaran Jalan Kapten Mulyono, Sampit yang memang kondisi lahan berada di dataran lebih rendah dibandingkan jalan raya. Sehingga air hujan langsung turun ke pertanian warga.
Sementara itu Anto salah seorang pelangsir sayur mayur mengatakan, ia banyak ditanyai oleh pelanggan terkait stok sayur yang memang kosong. Terutama para pedagang dari luar daerah Sampit yang biasanya menjadi pelanggan mengambil sayur untuk dijual lagi darinya.
“Saya biasanya membawa sayur ke Kecamatan Parenggean, pedagang di sana mengambil lagi dalam jumlah banyak melalui saya, kemudian dijual ke daerah perkebunan, ada juga di pasar setempat. Banyak yang menanyakan sayur manis yang sering diminati, namun karena banjir, jadi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.
Padahal ujarnya, biasanya jika sayur mayur lengkap keuntungan yang didapat akan lebih banyak. Lantaran kondisi ini keuntungan yang diperoleh menjadi lebih sedikit, karena hanya menjual sayur mayur seadanya. “Sayur mayur banyak yang kosong, dari pemasok banyak yang mengatakan gagal panen karena hujan deras dan banjir,” pungkasnya.
(dia/matakalteng.com)














