SAMPIT – Profesi sebagai petani sampai sekarang masih banyak dipandang sebelah mata, karena dinilai pekerjaan berat dan hasil tidak begitu besar. Namun berbeda dengan Supri (45), petani dari Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini.
Diceritakan Supri, dari produksi pertanian budidaya tomat miliknya bisa meraup ratusan juta dalam satu kali panen.
“Alhamdulillah hasil dari pertanian saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya, Selasa 8 Februari 2022.
Supri mulai merintis pertanian di Sampit sejak empat tahun lalu. Lahan yang ia garap pun bukan milik pribadi, melainkan milik juragannya di Surabaya. Ia hanya disuruh menjagakan tanah dan bangunan walet, sambil menggarap lahan milik bosnya untuk ditanami sayur-sayuran, termasuk tomat.
Sejak itu dia terus menekuni bidang pertanian, sehingga ekonominya semakin meningkat. Pasalnya dari produksi budidayanya itu mampu membeli dua hektar lahan dan sejumlah kendaraan roda empat.
Meski bertani perlu modal rupiah, namun baginya itu bukan faktor utama. Yang terpenting semangat serta menggunakan pola yang tepat. Modal yang ia habiskan untuk lahan 3,5 hektar kisaran Rp 94 juta. Namun modal itu telah kembali.
“Jadi modal itu sudah kembali dari putik pertama dari penanaman pertama karena tomat ini bisa beberapa kali panen tergantung perawatannya. Sekarang biaya yang digunakan untuk menanam lagi dari untung tanam pertama itu,” ujarnya.
Sebelumnya, orang yang bergabung di kelompok tani Alam Salju Sejahtera itu menanam sebanyak 6 ribu batang pohon tomat di lahan seluas 3/5 hektar. Dari jumlah itu produksi yang diperoleh mencapai 18 ton. Kini jumlah batang pohon tomat yang ditanam semakin banyak yaitu 13 ribu pohon.
“Kalau produksi untuk 13 ribu batang pohon tomat, sekali panen bisa mencapai 30-35 ton,” sebutnya.
Jika dikalikan dengan harga saat ini jelas Supri, harga tomat per kilogram dari para tengkulak sebesar Rp 10 ribu. Jadi untuk keuntungan bersih bisa mencapai Rp 160-200 juta setiap panen.
“Sekalipun turun harga dari tengkulak atau pasaran, keuntungan yang kami raup masih dikisaran seratus juta,” ungkapnya.
Sementara Lurah Pasir Putih Rudi Setiawan mengungkapkan bahwa menjadi petani saat ini sangat menjanjikan. Tidak kalah dengan profesi lainnya.
“Jangan memandang remeh petani, karena petani sekarang lebih canggih dan dapat berinovasi sehingga produksi tanamannya melimpah,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Rudi terus berupaya mendampingi para petani di wilayah Kelurahan Pasir Putih. Karena dengan maju dan berkembangnya pertanian makan akan berpengaruh terhadap perekonomian di daerah ini.
“Salah satu yang kami lakukan untuk mendukung petani adalah dengan memfasilitasi petani dengan pemerintah terkait, agar petani kita juga mendapat perhatian dari pemerintah,” tutupnya.
(dev/matakalteng.com)




















Discussion about this post