PANGKALAN BUN – Penjabat Bupati Kotawaringin Barat Budi Santosa menekankan upaya penurunan kasus stunting harus dilakukan secara efektif, sistematis dan terencana. Hal itu disampaikannya ketika mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan bidang kesehatan beberapa waktu lalu.
Ia juga menegaskan dalam rangka intervensi gizi sensitif dan spesifik, dibutuhkan sinergitas dan harmonisasi dari semua pihak. Mengingat bahwa pada tahun 2024 secara nasional telah ditetapkan target penurunan prevalensi stunting di atas 14 persen, sementara untuk kabupaten Kotawaringin Barat sendiri sebesar 12,49 persen.
“Upaya penurunan stunting di Kobar harus lebih efektif, sistematis dan terencana,” harapnya. Lebih lanjut dijelaskannya bahwa intervensi gizi yang sensitif dan spesifik harus dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan, pendidikan dan pertanian.
Kita tingkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi baik di pusat kesehatan maupun di sekolah-sekolah, selain itu program pemberian gizi ke ibu hamil dan balita sekarang juga sudah berjalan,” terangnya. Ia juga mengatakan, bahwa untuk pencegahan stunting sejak dini, mereka juga telah bekerja sama dengan berbagai organisasi dan lembaga seperti BKKBN guna memperkuat program keluarga berencana yang dinilai berperan penting dalam pencegahan stunting.
Untuk itu kita akan terus memantau dan melakukan evaluasi secara berkala terhadap program intervensi gizi sensitif dan efektif berjalan sesuai dengan rencana dan memberikan dampak sesuai dengan yang diharapkan,” tukasnya. Namun demikian, kasus stunting di Kabupaten Kotawaringin Barat mengalami peningkatan yang signifikan setelah dijalankannya program intervensi dan pengukuran serentak.
Berdasarkan data, peningkatan terbanyak ada di Pangkalan Banteng dengan jualan kasus stunting mencapai 121 kasus, kemudian kecamatan Kumai 103 kasus. Sementara di Pangkalan Banteng desa di kecamatan setempat yang mencatatkan kasus stunting tertinggi adalah desa Sungai Hijau, Marga Mulya, dan Kebun Agung, dan desa-desa tersebut memerlukan perhatian khusus dan intervensi lebih lanjut untuk menurunkan angka stunting.





















