PALANGKA RAYA – Cakupan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) di Kalimantan Tengah masih jauh dari target. Kendala utama yang dihadapi selama ini berkaitan dengan validasi data dan kesiapan teknis di lapangan.
Koordinator Regional BGN Kalimantan Tengah, Elisa Agustino, menjelaskan bahwa pada tahap awal pelaksanaan program, distribusi penerima manfaat lebih difokuskan kepada peserta didik. “Di awal itu plotting penerima memang lebih banyak ke peserta didik. Untuk kelompok 3B kendalanya cukup kompleks, mulai dari kesiapan kader, tenaga pendukung, sampai menunggu petunjuk teknis,” ujarnya, Minggu 3 Mei 2026.
Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, petunjuk teknis (juknis) sudah diterbitkan dan arah kebijakan mulai bergeser. Pemerintah pusat juga menekankan agar kelompok 3B menjadi prioritas dalam penerima manfaat program MBG. “Kami mulai mempercepat, apalagi arahan Presiden bahwa kelompok 3B harus diprioritaskan,” jelasnya.
Di Kalimantan Tengah, percepatan dilakukan dengan mengaktifkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru agar dapat melayani kelompok sasaran tersebut. Namun, prosesnya tidak lepas dari persoalan sinkronisasi data. Menurut Elisa, data penerima harus diselaraskan antara puskesmas, posyandu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, serta Dinas Sosial agar tidak terjadi tumpang tindih.
“Misalnya balita, datanya ada di puskesmas, tapi bisa juga sudah masuk PAUD atau TK dan menerima MBG. Jadi memang perlu sinkronisasi,” katanya. Ia menyebut, hingga April 2026, data penerima kelompok 3B di Kalteng berkisar 11 ribu hingga 12 ribu orang. Angka tersebut masih bersifat dinamis karena terus bertambah seiring pembentukan SPPG baru.
“SPPG baru itu tidak langsung melayani 3.000 penerima, tapi bertahap. Dari 1.000, 2.000, baru naik. Nah itu kita isi dengan prioritas kelompok 3B,” ungkapnya. Dari sisi target, BGN menargetkan sekitar 60 ribu penerima kelompok 3B di Kalimantan Tengah pada tahun 2026. Artinya, masih ada sekitar 50 ribu penerima yang harus dikejar dalam waktu tersisa.
“Kalau melihat potensi penambahan SPPG, targetnya sekitar 60 ribu. Sekarang sudah 11 ribu, jadi masih ada sekitar 50 ribu yang harus dikejar,” tegas Elisa. Ia optimistis target tersebut dapat tercapai apabila pembentukan SPPG berjalan sesuai rencana hingga pertengahan tahun.
Terlebih, cakupan penerima dari kalangan peserta didik dinilai sudah hampir terpenuhi. “Kalau target SPPG tercapai di pertengahan tahun, harapan kami bisa 100 persen. Karena sekarang peserta didik sudah hampir semua terlayani, jadi tidak ada alasan lagi SPPG tidak melayani 3B,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post