PALANGKA RAYA – Pemerintah terus melakukan berbagai upaya dalam menurunkan angka stunting di Indonesia dengan meluncurkan program Intervensi Serentak Pencegahan Stunting Tahun 2024. Tujuan program ini adalah untuk memastikan penurunan stunting di Indonesia mencapai target 14% dan mengakurasi angka stunting di Indonesia yang sebelumnya diukur berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI).
Dalam persiapan menyambut Bulan Timbang Nasional Juni mendatang, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah saat ini sedang melakukan identifikasi alat ukur timbang atau antropometri agar nantinya dapat melakukan pengukuran ulang pada Bulan Timbang Nasional. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan data antara data Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) dan SKI.
“Persiapan Bulan Timbang, kemarin kita sudah ada kesepakatan lintas sektor untuk komitmennya terhadap stunting. Dan, berkaitan dengan Bulan Timbang, kemarin kita dengan Pak Suyuti (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, red) sedang mengidentifikasi alat ukur timbang, antropometri yang standar,” ungkap Ketua Tim Penggerak PKK Kalteng Sugianto Sabran, Jumat 31 Mei 2024.
Yulistra Ivo Sugianto Sabran, Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Tengah mengatakan bahwa dalam mendapatkan alat ukur timbang yang sesuai standar, mereka bisa mengajukan ke Kementerian Kesehatan. Selain itu, dalam rangka mengatasi stunting, mereka juga memprioritaskan balita dan ibu hamil dengan memberikan nutrisi yang tepat.
Dalam hal sosialisasi pencegahan stunting dan perkawinan usia anak, beberapa daerah berisiko stunting telah melakukan kegiatan tersebut. Misalnya saja di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kapuas, Sampit, Seruyan, dan daerah lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menekan angka stunting dan pernikahan usia anak.
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi intensifikasi untuk mengurangi angka stunting dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan. “Memang salah satu strategi kita, mengintensifkan sosialisasi di daerah berisiko stunting. Kemarin kita di Sampit dan Kapuas karena apa, karena di sana penduduknya besar, jumlah remajanya juga cukup besar. Untuk menekan stunting dan pernikahan usia anak, kita intensifkan ke situ,” tutup Ivo.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post