PALANGKA RAYA – Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Sayangnya, kondisi ini masih menjadi persoalan serius di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia.
Stunting dapat menghambat pembentukan SDM yang unggul yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi Indonesia yaitu Generasi Emas 2045. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melalui arahan Presiden Joko Widodo mengevaluasi prevalensi stunting di Indonesia, dengan target menurunkan prevalensi stunting anak di bawah usia dua tahun menjadi 14 persen pada tahun 2024.
Provinsi Kalimantan Tengah juga berupaya keras dalam menurunkan prevalensi stunting, dengan mengoptimalkan dan mengefektifkan peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Kalimantan Tengah berhasil menurun dari 26,9 persen di tahun 2022 menjadi 23,5 persen di tahun 2023.
“Selain itu, pernikahan usia anak juga mengalami penurunan drastis dari peringkat 2 di tahun 2022 menjadi peringkat 6 dari 38 Provinsi pada tahun 2023,” ungkap Kepala BKKBN Kalteng Jeanny Yola, Kamis (21/3).
Tidak hanya itu, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, H Edy Pratowo juga mengimbau kepada masyarakat Kalimantan Tengah agar menikah di atas 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. “Pernikahan usia dini banyak ruginya, salah satunya menyebabkan lahir anak stunting,” pesan wagub.
Sebelumnya, Wakil Presiden Maruf Amin juga mengevaluasi target prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024, apakah bisa tercapai atau tidak. Pasalnya, prevalensi stunting masih belum mencapai target nasional.
“Meskipun program penanganan stunting sudah dimulai sejak tahun 2018, namun hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi stunting tahun 2023 adalah sebesar 21,5 persen, kurang dari 1 persen penurunan dari tahun 2022,” sebut wapres.
Karenanya, diperlukan upaya-upaya dalam menangani stunting. Penggunaan teknologi, seperti pemanfaatan aplikasi gizi, serta pelibatan masyarakat yang lebih luas melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dapat menjadi solusi untuk mengatasi stunting.
Dalam memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar, tak hanya perlunya menyediakan asupan gizi yang cukup dan bergizi, namun juga perlu menanamkan nilai penting tentang perlunya intervensi maupun deteksi dini pada kehamilan serta pentingnya pola asuh yang baik bagi anak.
“Menangani stunting memang tidak mudah, namun dengan kolaborasi yang kuat dan konsisten, diikuti dengan kesadaran masyarakat dan teknologi yang semakin maju, diharapkan prevalensi stunting dapat menurun dan Generasi Emas 2045 dapat segera tercapai,” pesan wapres.
(vi/matakalteng)
Foto: Wagub Kalteng H Edy Pratowo menyapa ibu hamil pada kegiatan Pasar Murah di Kabupaten Kapuas






















Discussion about this post