PALANGKA RAYA – Koalisi Huma Betang yang dipimpin oleh Agustiar Sabran dan Edy Pratowo menjadi contoh nyata persatuan yang luar biasa bagi berbagai elemen masyarakat di Kalimantan Tengah. Koalisi ini berhasil menyatukan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, seperti tokoh Dayak, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Kejadian ini bukan hanya mengundang perhatian publik, tetapi juga membuktikan kekuatan kolaborasi lintas identitas dalam mewujudkan visi bersama.
Kepemimpinan Agustiar Sabran sebagai Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah tentu memiliki andil dalam kesuksesan koalisi ini. Berbagai tokoh Dayak, termasuk Yansen Binti, Ketua Gerdayak Kalteng, telah memberikan dukungan penuh kepada pasangan Agustiar-Edy.
Tidak hanya Tokoh Dayak, pasangan ini juga meraih dukungan warga Nahdlatul Ulama (NU) dan para santri. Edy Pratowo, kader NU dan mantan Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) di Pulang Pisau, mendapat dukungan dari kalangan santri dan warga NU.
“Rekam jejaknya yang kuat di organisasi NU membuatnya mendapatkan dukungan yang luas,” sebut Sesa Mareki, Sekretaris Biro Pelajar dan Mahasiswa, Minggu (6/10).
Koalisi Huma Betang juga mampu merangkul Muhammadiyah, hal ini terlihat dari dukungan yang diberikan oleh Ketua DPW PAN Kalteng, H. Achmad Diran, seorang tokoh senior Muhammadiyah. Dukungan Muhammadiyah menunjukkan bahwa kolaborasi dalam Koalisi Huma Betang tak hanya mencakup kalangan tertentu, tetapi juga bersifat inklusif dan mampu menjembatani berbagai komunitas Islam di Indonesia, baik NU maupun Muhammadiyah.
Koalisi Huma Betang yang dipimpin oleh Agustiar Sabran – Edy Pratowo akhirnya menjadi simbol dari sebuah persatuan yang menyatukan berbagai kelompok, tanpa memandang perbedaan latar belakang. Ini adalah wujud nyata dari semangat Huma Betang, yang tidak hanya mengakomodasi kepentingan adat dan agama, tetapi juga mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat demi mencapai kemajuan bersama.
Persatuan dan kolaborasi dalam Koalisi Huma Betang menunjukkan betapa pentingnya untuk merangkul berbagai lapisan masyarakat dalam mencapai tujuan bersama. Kolaborasi yang inklusif dan mendahulukan kepentingan bersama adalah kunci bagi keberhasilan pembangunan daerah, termasuk di Kalimantan Tengah.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post