SAMPIT – Pengamat politik Muhammad Gumarang menyampaikan dalam pemilihan kepala daerah khususnya untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur provinsi Kalimantan Tengah 4 bakal Pasangan calon yang maju dalam pemilihan itu memiliki kelebihan masing-masing yang bisa menjadi poin plus di tengah masyarakat.
Empat kandidat Pilkada Kalteng, yakni Agustiar-Edy Pratowo, Abdul Razak-Sri Suwanto, Nadalsyah-Supian Hadi, dan Willy M Yoseph-Habib Said Ismail.
“Pasangan AgustiarEdy Pratowo yang dimotori Gerindra, PAN, dan PKS, secara mesin politik sangat diperhitungkan. Apalagi ada Partai Gerindra selaku partai penguasa saat ini yang pasti punya misi berkuasa dari tingkat pusat hingga ke daerah untuk kepentingan jangka panjang,” kata Gumarang, Senin 9 September 2024.
Menurutnya, langkah politik Agustiar yang loncat dari PDIP ke Gerindra harusnya bisa menjadi pertanyaan politik sendiri. Tentunya ada hal yang lebih besar dan menjanjikan bagi Agustiar, sehingga dia berlabuh ke Gerindra.
”Ini tentunya perlu diperhatikan. Mungkin saja di situ Agustiar ini akan diback up dari Jakarta untuk kemenangannya di pilgub nantinya. Agustiar meninggalkan PDIP dan pindah ke Gerindra sepertinya sudah ada hitungan politik,” tegasnya.
Kemudian, bapaslon Nadalsah-Supian Hadi, kata Gumarang, keduanya sama-sama mantan bupati dua periode. Nadalsyah merupakan figur kuat dari DAS Barito yang memiliki pemilih militan.
Demikian pula dengan Supian Hadi, mantan Bupati Kotim dua periode yang juga punya basis pendukung militan.
Secara mesin politik, lanjutnya, keduanya diusung PDI Perjuangan dan Demokrat, serta PPP. Meski demikian, suara kader partai bisa terbelah dan tidak satu suara mendukung Nadalsyah-SHD.
“Sebab, ada kader PDIP lainnya yang memiliki pengaruh cukup besar di partai Banteng, yakni Willy. Selain itu, meski loncat ke Gerindra, Agustiar juga diyakini masih memiliki loyalisnya di PDIP,”ucapnya.
Menurutnya, Nadalsyah-SHD juga memiliki sisi kelemahan, yakni di DAS Barito. Nadalsyah akan diserang Willy M Yoseph dan Edy Pratowo. Keduanya merupakan figur yang potensial memecah suara yang seharusnya jadi lumbung Nadalsyah nantinya.
Begitu juga di Kotim. Supian Hadi akan digasak habis-habisan oleh Agustiar dan Willy. Agustiar saat ini juga dikenal baik oleh warga Kotim karena memiliki jiwa dermawan dan suka membantu rakyat kecil.
“Sepertinya Agustiar menggarap basis pemilih di wilayah tengah hingga selatan, sedangkan Willy akan menggarap basis pemilih di wilayah pelosok, karena ada anggapan Willy ini adalah representasi masyarakat suku Dayak di pelosok. Jadi di Kotim sendiri cukup berat bagi SHD untuk menang secara maksimal,” tambah Gumarang.
Kemudian, bapaslon Willy-Habib, merupakan kandidat yang juga tidak kalah kuat. Keduanya sama-sama memiliki basis massa dan didukung mesin politik Nasdem-PKB.
”Habib terkenal di Kapuas dan Willy di wilayah Murung Raya, Gunung Mas, Lamandau, Katingan, Barito Timur, yang jadi andalannya. Ini berkaca kepada pemilu yang selama ini terjadi,” kata Gumarang.
Dia melanjutkan, Willy sudah pernah memiliki rekam jejak sebagai petarung di pilkada sebelumnya. Tentunya di pilkada kali ini sudah memiliki evaluasi dan strategi untuk meraup suara.
”Willy-Habib merupakan kolaborasi partai berbasis nasionalis dan agamis. Ini tentunya juga berpeluang besar meraup kemenangan,” tegasnya.
Sementara itu, bapaslon Abul Razak-Sri Suwanto, ujar Gumarang, akan terganggu dengan Edy Pratowo yang juga kader Golkar. Golkar ini identik dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM), tapi nyatanya pecah di daerah.
”Yang harusnya juga di wilayah barat jadi basisnya Abdul Razak, dibuat pecah karena ada Agustiar di situ. Keduanya merupakan simbol barat,” katanya.
Namun, lanjut Gumarang, Palangka Raya dengan urutan ketiga daftar pemilih terbanyak tentunya bisa didominasi Abdul Razak. Pasalnya, sang anak Fairid Nafarin juga bertarung di Pilkada Kota Palangka Raya.
”Tapi, perlu dicatat, Abdul Razak dibackup Ruslan AS yang juga memiliki pengaruh besar untuk wilayah barat,” tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post