SAMPIT – Program sekolah penggerak akan mempercepat transformasi pendidikan di daerah. Sehingga sangat penting adanya tempat untuk saling berkonsultasi merujuk pada kearifan lokal masing-masing daerah sehingga sekolah lebih terinspirasi dalam melakukan perubahan.
“Sekolah penggerak bisa mementor sekolah di sekitarnya dan Sekolah Penggerak akan diberikan sumber daya pendukung. Antar daerah akan saling belajar, karena semangat program ini bukan kompetisi melainkan kolaborasi,” kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur, M Irfansyah, Sabtu 9 Desember 2023.
Program sekolah penggerak memiliki empat tahapan proses transformasi, yaitu tahap 1, Sekolah sebagai tugas, pimpinan sebagai pengatur, guru sebagai pelaksana kurikulum, siswa sebagai penerima pengetahuan, kurikulum berdasarkan konten, penilaian bersifat sumatif/menghukum.
“Hasil belajar siswa 3 tingkat di bawah level yang diharapkan. Perundungan menjadi norma. Lingkungan belajar tidak memperhatikan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa,”jelasnya.
Sementara Tahap 2 yaitu Sekolah sebagai kegiatan yang menyenangkan, pimpinan memberikan pelayanan, guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum, siswa sebagai pelaku pembelajaran, kurikulum berdasarkan kompetensi, penilaian bersifat formatif/mendukung.
Hasil belajar siswa 1-2 tingkat di bawah level yang diharapkan. Perundungan masih terjadi namun tidak menjadi norma. Lingkungan belajar belum memperhatikan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa.
“Tahap 3 yakni Sekolah sebagai organisasi belajar, pimpinan sebagai pemimpin pembelajaran, guru sebagai fasilitator pembelajaran, siswa sebagai pemilik pembelajaran, kurikulum berdasarkan kompetensi dan karakter, penilaian bersifat otentik/memacu. Hasil belajar siswa di level yang diharapkan. Perundungan tidak terjadi. Lingkungan belajar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa,”ungkapnya.
Sedangkan Tahap 4, Sekolah sebagai pusat inovasi pembelajaran, pimpinan sebagai agen perubahan, guru sebagai inovator pembelajaran, siswa sebagai inovator pembelajaran, kurikulum berdasarkan kompetensi dan karakter serta relevan dengan tantangan global, penilaian bersifat holistik/menginspirasi. Hasil belajar siswa di atas level yang diharapkan. Aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post