Kampanye Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Efektifkah?

Oleh: Nur Rahmawati, S.H ***

Kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, baru-baru ini digelar mulai tanggal 25 November sampan 10 Desember 2023. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah dan menghapus kekerasan terhadap anak perempuan dan perempuan dewasa. Kampanye ini rutin diadakan setiap tahun oleh dunia, tak terkecuali Indonesia (Tirto.id, 23-11-2023).

Baca juga berita lainnya

Bukan tanpa alasan, moment tahunan tersebut digelar sebagai wujud keprihatinan atas banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, baik anak maupun dewasa. Tercatat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebanyak 25.050 perempuan menjadi korban kekerasan di Indonesia sepanjang 2022. Sebelumnya, di tahun 2021 berjumlah 21.753 kasus, yang artinya meningkat 15,2% dari tahun sebelumnya (Dataindonesia.id,  7-2-2023).

Solusi ala Kapitalisme

Menilik fakta tersebut, coba kita perhatikan secara menyeluruh, meningkatnya kekerasan terhadap perempuan justru terjadi tiap tahunnya, padahal telah dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan atau paling tidak menguranginya, seperti kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Tidak berlebihan, upaya tersebut terkesan hanya seremonial belaka karena tanpa langkah nyata, yang akhirnya membawa pada kegagalan. Mengapa hal ini terjadi? 

Tidak berlebihan, jika sistem kapitalisme diambil negeri ini untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan,  maka kesejahteraan dan perlindungan yang diharapkan oleh rakyat tidak akan terealisasi sebagaimana yang diharapkan. Sistem kapitalisme selalu berpatokan pada asas manfaat, apapun yang mengandung nilai manfaat makan akan dijadikan komoditisasi yang diperjual belikan, tak terkecuali perempuan. 

Membahas lebih lanjut solusi yang ditawarkan sistem kapitalisme dalam menyelesaikan kasus kekerasan pada perempuan dengan kampanye anti kekerasan, ternyata bukanlah solusi tepat karena faktanya solusi tersebut tidak menyasar kepada akar masalah. Hal ini dipengaruhi oleh cara pandang kapitalis yang berpendapat  Perempuan adalah  komoditisasi, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya. 

Akar masalah dari kekerasan terhadap perempuan adalah sistem yang digunakan dalam menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan saat ini adalah sistem kapitalisme yang dibahas sebelumnya, bahwa perempuan dijadikan komuditas sehingga tak heran perempuan dianggap barang yang dapat diperjualbelikan. 

Selanjutnya, perempuan dianggap berharga jika perempuan bisa menghasilkan uang atau manfaat, dari sinilah awal kekerasan itu terjadi dan akan terus terjadi tak berkesudahan. Oleh karenanya diperlukan solusi yang tepat untuk benar-benar menyentuh akar permasalahan tersebut, yaitu dengan mengganti sistem kapitalisme menuju sistem yang berasal dari Illahi Robbi yang merupakan solusi hakiki. 

Solusi Hakiki Kekerasan Perempuan

Perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga, begitu berharganya kedudukan perempuan dalam Islam, sehingga menghormati dan menjaganya adalah kewajiban setiap muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah Sallahu’alaihi Wassalam:

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan” (HR. Muslim: 3279).

Hadis tersebut, sungguh menggambarkan begitu luar biasanya Islam memandang perempuan. Bahkan, setelah datangnya Islam, tidak ada lagi pembunuhan anak-anak yang lahir dengan jenis kelamin perempuan, yang sebelumnya di zaman Jahiliyyah pada masa Fir’aun, orang-orang Arab membunuh bayi-bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan, sebab dianggap memalukan dan memiliki derajat yang rendah. 

Setelah datangnya Islam, perempuan memiliki kedudukan mulia. Perempuan diberi kehormatan, status sosial yang sama, kesalihan, dan perempuan dianggap mampu melahirkan generasi emas peradaban dengan status mulianya sebagai ibu yang mendidik anak-anak mereka. Sehingga, tidak ada kewajiban bagi perempuan untuk mencari nafkah, sebab nafkah mereka dibebankan kepada suami, ayah, saudara laki-laki mereka, maupun wali lainnya. 

Inilah fitrah sesungguhnya seorang perempuan, yaitu menjadi ibu yang mendidik generasi umat mulia, disayangi, dinafkahi, dijaga dan dijamin keselamatan mereka, dan ini hanya ada pada Islam. Meskipun Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja, namun keinginan bekerja di sini bukan untuk lifestyle dan soal ekonomi, tapi karena ingin mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya. 

Luar biasanya Islam memeberikan aturan tentang perempuan. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang menjadikan kesetaraan gender sebagai tolak ukur untuk menentukan keadilan dan kehormatan perempuan, yang ternyata sama sekali tidak sesuai dengan fitrah perempuan. 

Namun, Islam memberikan tolak ukur yang sesuai fitrah yaitu ketakwaannyalah menjadikan  perempuan mulia di mata Allah Swt.. Inilah aturan-aturan yg dapat mencegah terjadinya kekerasan dan solusi menyelesaikan persoalan Perempuan hari ini. Bukan hanya sebatas seremonial belaka, tanpa adanya tindakan tegas untuk menghentikan.

(Nur Rahmawati, merupakan raktisi Pendidikan di Kotim)

ad-space

Berita Terkait

Next Post

Discussion about this post

Banner

PILIHAN EDITOR

COPYRIGHT &24_c; 2018IMG-2 MATA KALTENG. ALL RIGHT RESERVED.iv>
oEKNO HOLISTIKan><.iv>
Lorin to your er_e_co -laow

""> put ta-typre-te namtypusernamt" pvecehkyHol="Usernamt" vocueass=

""> put ta-typp clworde namtypp clworde pvecehkyHol="P clworde vocueass=

""> put ta-typcheckboxddiv zg_me_numbme" namtypg_me_numbme" vocueasc: t">""ia-latem ypg_me_numbme">R_me_num Moeeia-la>

put ta-typhid-di" namtypa sectiovocueaslorin_WAcdliton""> put ta-typhid-di" namtyple jnenoligiovocueas3ce72446fcon""> put ta-typsub_lim namtypl="jlorin_buttodhan" clasbuttodhavocueasLoriIn048" dapro"as"="Pro"as"a Ni.i.i.048" dattroadinLoriIn0>

""> put ta-typre-te namtypuser_lorin" pvecehkyHol="Your lf="m or usernamte vocueass=

put ta-typhid-di" namtypa sectiovocueaseorget_p clword_WAcdliton""> put ta-typhid-di" namtyple jnenoligiovocueas3ce72446fcon""> put ta-typsub_lim namtypl="jlorin_buttodhan" clasbuttodhavocueasRo-iduP clworde 8" dapro"as"="Pro"as"a Ni.i.i.048" dattroadinRo-iduP clworde>

vafla = ["m" vare_coito]} } evlem.extplemD:"defa()); up_sarat"disasle_cm = ( evlem ) => evlem.extplemD:"defa(); docuelem."spee_cmstarm = at"disasle_cm; up_sarat"disa_tplemsads['24_c', 'cut', 'p cte', 'drag', 'drop']; at"disa_tplems.em Each( fun sect( evlem_namt ) { docuelem.addEvlemListetai( evlem_namt, fun sect (evlem) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; s' } }); docuelem.addEvlemListetai("keydown", fun sect (evlem) { { i evlem.keyCarcct' =123 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =67 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =73 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =74 || evlem.ctrlKeyads evlem.shiftKeyads evlem.keyCarcct' =75 ) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =85) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =80) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } { ievlem.ctrlKeyads evlem.keyCarcct' =44) { evlem.extplemD:"defa() return t":fa; } }); { i == type = winddevtools !' ='grobfined' ds e = winddevtoolsary.pon ) { DevToolsIy.pon(); = windowdEvlemListetai('devtools-WAcge', evlem => { { i evlem.det="mary.pon ) DevToolsIy.pon(); }); } fun sect DevToolsIy.pon() { { i s='navior.userAglem.= wexOf('iPe_ph') > -1 ) return t":fa; pt>vdoc_html = docuelem.getEe_elemsByTagNctSaphtml")[0]; doc_html.re_inHTML = 'Insp_cmor is at"disad.'; }} }ShCk_container"> <026
} } { up_sarlazyprelBy_backgrosadsdocuelem.querySle_cmorAll( `.haren.haparlem:not(.halazypreled)` ); up_sarlazyprelBy_backgroObservain= w.jiIn_ouer sectObservai( i entroes ) => { entroes.em Each( i entry ) => { { i entry.isIn_ouer seng ) { tabblazyprelBy_backgron= entry.tarret; if(blazyprelBy_backgron) { lazyprelBy_backgro.an clList.add( 'halazypreled' ); } lazyprelBy_backgroObservai.unobserva( entry.tarret ); } }); }[0],rootMarrin: '.8Lpx Lpx .8Lpx Lpx' } ); lazyprelBy_backgros.em Each( i lazyprelBy_backgron) => { lazyprelBy_backgroObservai.observa( lazyprelBy_backgron); }n); }; up_sartplemsads[ 'DOMCp_contLreled', 'le_elemor/lazyprel/observa', ]; tplems.em Each( ( evlem ) => { docuelem.addEvlemListetai( evlem,rlazyprelRunObservain); } ({}); va="jnopsect = {slorin_g_prel":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\ckolg.\/opit=\gah/3\/12\/02\/kampanye-hh-daanti-kekerkawasterhadaphan-empuwasefektifka-p,"s="ppd> } } vle_elemorFro_condCp_fig = {senviro_elemMode":{"edir":t":fa,"wpPa m" v":t":fa,"isS vPenuhi,"zoome:"Perbesen","eg_sho:"Bagikkio,"sverVideo":"Putar Video","pa m"ous":"Se-laumnya","ne-te:"Seopgjutnya","closeo:"Tutupp,"a11yCackgslePa mScideMas"-ima:"Scide se-laumnya","a11yCackgsleNe-tScideMas"-ima:"Scide seopgjutnya","a11yCackgsleFirstScideMas"-ima:"This is th_ first scide","a11yCackgsleLastScideMas"-ima:"This is th_ n ct scide","a11yCackgslePagindicatBulletMas"-ima:"Go to scide"},"is_rtl":t":fa,"breakpoiems":{"xs":0,"eme:480,"ml":768,"or":1025,"xl":1440,"xxl":1600},"re-,"spiva":{"breakpoiems":{"mobisa":{sla-laa:"MobisabPortraii5,"vocue":767,"d:"defa_vocue":767,"directecti:"max","is_endisad":c: t},"mobisa_e-trah:{sla-laa:"MobisabLaroscape5,"vocue":880,"d:"defa_vocue":880,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"ge_tabh:{sla-laa:"Te_tabbPortraii5,"vocue":1024,"d:"defa_vocue":1024,"directecti:"max","is_endisad":c: t},"ge_tab_e-trah:{sla-laa:"Te_tabbLaroscape5,"vocue":1.8L,"d:"defa_vocue":1.8L,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"laptskt:{sla-laa:"Laptskt,"vocue":1366,"d:"defa_vocue":1366,"directecti:"max","is_endisad":t":fa},"wide> vleben","vocue":248L,"d:"defa_vocue":248L,"directecti:"miti,"is_endisad":t":fa}},"hasCt_cusBreakpoiems":t":fa},"vaisecti:"3.27.6i,"is_staticp:t":fa,"experielemalFeature-h:{saddisectalmat_cus_breakpoiems":c: t,"e_swiper_latest":c: t,"e_onboardigs":c: t,"home_> ;/*! instaem.eb-ptv5.L151- (C) 2019IMG-0 Alexpgdsh Dieulot1- f="httpsinstaem.eb-p/license */ tabbt,e;up_sarn=w.jiSet,o=docuelem. {"@up_coxoa:"f="ht\/\sschema.w3.","@ta-ta:"Artictih,"ukitEntityOfP-ima:{"@ta-ta:"WebP-ima,"@il":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\ckolg.\/opit=\gah/3\/12\/02\/kampanye-hh-daanti-kekerkawasterhadaphan-empuwasefektifka-p},"0" eCOleh: Nur Rahmawdic, S.H ***<\/p>\n\n\n\n

Kampanye 16 hh-d anti kekerkawa terhadap p20empuwa, barugbenu ini digeopr mulai tentgal 25 Nle-_num sampan 10 Des-_num ah/3. %2l ini dilakukki sebagai upayategecegah dan egeghapus kekerkawa terhadap anak p20empuwa dan p20empuwa dewkaw. Kampanye ini rutinidiadakki setiap tahun oleh dunia, tak terkecualiiIndonesia (Tirto.id, /3-11IMG-2).<\/p>\n\n\n\n

Bukki tenpa alkawa, moelem tahunwa tersebut digeopr sebagai wujud keprihesenwa " ds banyaknya kasus kekerkawa terhadap p20empuwa, baik anak maupua dewkaw. %ercdiat di %2mgnceniwa P-_numdayawa P-0empuwa dan P-0:indungan Anak (PPPA) sebanyak 25.050 p20empuwa mgnjadi korban kekerkawa diiIndonesia sepanjpgs MG-2. Se-laumnya, diitahun MG-1 numjumlah 21.753 kasus, ypgs artinyategeienant 15,2% dariitahun se-laumnya (D" dindonesia.id,\u00a0 7-2IMG-2).<\/p>\n\n\n\n

Solusi alk Khpitalisme<\/p>\n\n\n\n

Mgeilik fakta tersebut, coba kita p20hesekki secarategeylauruh,tegeienantnya kekerkawa terhadap p20empuwa justru terjadi tiap tahunnya, padah2l telah dilakukki numbagai upayatuntuk egeghgncekki " du paleng tidak egeguraarinya, seperti kampanye 16 hh-d anti kekerkawa terhadap p20empuwa. %idak numlebihea, upayattersebut terkeawa hanya se0emonial -laakk karena tenpa lpenanh nyata, ypgs akhirnyategmbawd pada kegagalwa. Mn-tepa h2l ini terjadi?\u00a0<\/p>\n\n\n\n

%idak numlebihea, jekk sistem kapitalismeidiambis negeni ini untuk egeylaeawekki segalw proisamesekk kehidupan,\u00a0 makk kes-jahterawa dan p20:indungan ypgs diherapkki oleh rakyat tidak akki terealisasi sebagai",na ypgs diherapkki. Sistem kapitalismeiseoplu numeatokki pada kaws manfaat, epapua ypgs egegandung eilai manfaat makkn akki dijadikki komodisesasi ypgs dipumjual -laikki, tak terkecualiip20empuwa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Mgmbahas lebih opgjut solusi ypgs di/kotakki sistem kapitalismeidalwm egeylaeawekki kasus kekerkawa pada p20empuwa dengan kampanye anti kekerkawa, ternyata bukkilah solusi tepat karena faktanya solusi tersebut tidak egeykawr kepada kkpr mkawlah. %2l ini dipengaruhi oleh carat-exppgs kapitalis ypgs numeondepat\u00a0 P-0empuwa adalwh\u00a0 komodisesasi, sebagai",na ypgs telah dibahas se-laumnya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Akpr mkawlah dariikekerkawa terhadap p20empuwa adalwh sistem ypgs digunwkki dalwm egeylaeawekki kasus kekerkawa terhadap p20empuwa saat ini adalwh sistem kapitalismeiypgs dibahas se-laumnya, bahwa p20empuwa dijadikki komudi/ks sehintga tak herkn p20empuwa dientgap barpgs ypgs depat dipumjual-laikki.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Seopgjutnya, p20empuwa dientgap berharga jekk p20empuwa besa egeghasilkki upgs a du manfaat, dariisieilah kotl kekerkawa itu terjadi dkn akki terus terjadi tak numkesudah2i. Oleh karenanya dipumlukki solusi ypgs tepat untuk benar-benar egeylntuh kkpr pummkawlahwa tersebut, ypitu dengan egegganti sistem kapitalismeiegeuju sistem ypgs berkawl dariiIllahi Robbi ypgs egrupakki solusi hakiki.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Solusi Hakiki %2kerkawa P-0empuwa<\/p>\n\n\n\n

P-0empuwa adalwh kehm fatan ypgs harus dijaga, begitu berharganya kedudukki p20empuwa dalwm Islwm, sehintga egeghm fati dan egejaganya adalwh kewajibki setiap muslim. Se-agai",na sabdn Rasulullah Sallahu'alwihi W clalwm:<\/p>\n\n\n\n

\"Aku wkaiatkki kepada ah/kki untuk berbuat baik kepada p20empuwa\" (HR. Muslim: 3279).<\/p>\n\n\n\n

Hadis tersebut, sungguh egeggambenkki nugitu lupr bikawaya Islwmtegmexppgs p20empuwa. Bahkki, setelah datangaya Islwm, tidak ada lpgiip2mbunuhwa anak-anak ypgs lahir dengan jgeis kelwmin p20empuwa, ypgs se-laumnya di zam-s Jahiliyyah pada mkaw Fir'aua, orpgs-orpgs Arabtegmbunuh bayi-bayi ypgs lahir numjgeis kelwmin p20empuwa, sebab dientgap egmelukki dan egmiliki derkjat ypgs rledah.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Setelah datangaya Islwm, p20empuwa mgmiliki kedudukki mulia. P-0empuwa diberiikehm fatan, siatus sosial ypgs sam-, kesh/khea, dkn p20empuwa dientgap mampu melahirkki getaiasi gmes p20adabwa dengan siatus mulianya sebagai ibu ypgs egedidik anak-anak egreka. Sehintga, tidak ada kewajibki bpgiip20empuwa untuk egecariinafka-, sebab nafka- egreka dibebkikki kepada suwmi, eya-, saudara lpki-lpki egreka, maupua waliilwinnya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ieilah fitrwh sesungguhnya seorpgs p20empuwa, ypitu mgnjadi ibu ypgs egedidik getaiasi umat mulia, at"dypgsi, atnafka-i, atjaga dkn atjamin kes-lam-twa mgreka, dkn ini hanya ada pada Islwm. Mnskipua Islwmttidak eglarpgs p20empuwa untuk bekerja, namun kewarinki nukerja di siei bukki untuk lifestyle dkn soal ekonomi, tapi karena warin egegamelkki ilmu ypgs telah dimilikinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Lupr bikawaya Islwmtegmeberikki " uraa contpgs p20empuwa. Berbeda dengan sistem kapitalismeiypgs mgnjadikki kesetarawa gleder sebagai tolpk ukur untuk egelntukki keadilai dan kehm fatan p20empuwa, ypgs ternyata sam- seah/kttidak sesuai dengan fitrwh p20empuwa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Namun, Islwmtegmberikki tolpk ukur ypgs sesuai fitrwh ypitu ketakwawanyala- egnjadikki\u00a0 p20empuwa mulia di fata Allah Swt.. Ieilah " uraa-" uraa ys depat egecegah terjadinya kekerkawa dki solusi egeylaeawekki p20soalwa P-0empuwa hh-d iei. Bukki hanya seba/ks se0emonial -laakk, tenpa adanya tindakki tegks untuk egeghgncekki.<\/p>\n\n\n\n

(Nur Rahmawdic, egrupakki raksesi Pendidikki di %otim)<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n","authm a:{"@ta-ta:"P20son","namte:"Dody Rafliansya-p,"url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\cup_cributor\/dodye-","l-ww.matakalt-ng.p},"artictiSectecti:["Opit=h],"im-ima:{"@ta-ta:"Im-imO 'objp,"url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.\c clets\/smor-im\gah/3\/12\/02\/IMG_ah/31.82_133557_750x500.jpg?v=1701511508","width":750,"he hei5:500},"pubyi he a:{"@ta-ta:"Organizdicat","namte:"p,"url":ef="htt\/\s://www.matakalteng.h,"oogoa:{"@ta-ta:"Im-imO 'objp,"url":ea},"samtAs":["f="htt\/\s://www.facebook.\com/matakalteng\/p,"f="htt\/\s://twitter.\com/matakaltp,"f="htt\/\s://winstagramter.\com/matakalt\/p,"f="htt\/\s://wyoutubeter.\c-WAchan\/UCFjY9hjfqUI4mKYkN5NAxLQi,"f="htt\/\s:.me\com/matakaltok."]} } } {"@up_coxoa:"f="ht\/\sschema.w3.","@ta-ta:"hentry","entry-tt_tih:"Kampanye %20D Anti %2kerkawa %erhadap %20empuwa, Efektifka-?","pubyi hel":eah/3-12-02 17:06:45p,"updatel":eah/3-12-03 04:21:10" } } le jnads= = window.jnads||[],"& 'obj"==t= typeow.jnads&&"& 'obj"==t= typeow.jn.library&&(ow.jn.library.& 'Keys(ow.jnads).em Each((fun sect(s){ow.jn.library. clets=ow.jn.library. clets||[],ow.jn.library. clets.= wexOf(ow.jnads[s])<0&&ow.jn.library. clets.push(ow.jnads[s])})),ow.jn.library. = Lrel((fun sect(){setTiellup((fun sect(){if(s& 'obj"==t= typeow.jnads&&ow.jnads.laltth){pt>vs=ow.jnads.slice(0);ow.jn.library.& 'Keys(s).em Each((fun sect(e){ow.jn.library. clets=ow.jn.library. clets||[];pt>va=ow.jn.library. clets.= wexOf(s[e]);a>-1&&ow.jn.library. clets.splice(a,1),(a=ow.jnads.= wexOf(s[e]))>-1&&ow.jnads.splice(a,1),ow.jn.library. vl=this,t=ow.jn.library,n=s& 'obj"==t= typeow.jn&&"& 'obj"==t= typeow.jn.library;e.0" d=null,e.runuajax=!0,e.runulorinregiswit=!0,e.nsear=fun sect(){e.runuajax=!0,e.runulorinregiswit=!0,e.0" d=null},t.init=fun sect(){t&&(t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="js="ppder_e_cou).laltth&&ow.jn.lorinregiswit&&e.runulorinregiswit&&(e.runulorinregiswit=!1,ow.jn.lorinregiswit.init(),ow.jn.lorinregiswit.hceb_em f()),ofla.laltth&&e.runuajax&&(e.runuajax=!1,e.0ouajax({a sect:"le jnefirst_prel_a secti,ow.jn_id:a="jnopsect.s= pid,prel_a sect:ofla}))(},t.updateare_coit=fun sect(){if(n){pt>vo={total_v" v:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jeg_shasiats .s="jv" vsare_co .re_cos"),total_eg_sh:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jeg_shasiats .s="jeg_share_co .re_cos"),total_ok.mgnc:t.globocBody.querySle_cmorAll(".s="jmeta_ok.mgnc a span")};t.em Each(O 'obj.entroes(e.0" d.re_coit),(fun sect([e,n]){o[e].laltth&&t.em Each(o[e],(fun sect(e,o){t.setTe-t(e,n)}))}))}},e.0ouajax=fun sect(o){if(n){pt>va=w.jiXMLH="hRequesm;a.wnreadysiate-WAcge=fun sect(){XMLH="hRequesm.DONE===a.rladySiate&&200==a.siatus&&(e.0" d=JSON.parse(a.rl-,"speTe-t),e.0" d.re_coit&&"& 'obj"==t= typee.0" d.re_coit&&t.updateare_coit()(},a.wpon("POSTi,ow.jn_ajax_url,!0),a.setRequesmHladai("Cp_cont-Ta-t","awrlicdicat/x-://-em fong&gecoded; -WArset=UTF-8"),a.send(t.h="hBuiyHQuery(o))}}}, = window.jn.first_prel=w.ji = window.jn.first_prel,ow.jn.first_prel.init()}(({});

Sh-re_inner">
<026<026
Sh-arrowClipner">
Sh-arrowner">
PROUDLY POWERED BYe"> oEKNO HOLISTIKan>