SAMPIT – Di tengah deretan los kosong dan pembeli yang semakin sepi, suara keprihatinan muncul dari para pedagang Pusat Ikan Mentaya (PIM) di Sampit. Mereka merasa terpinggirkan oleh menjamurnya pedagang liar yang bebas berjualan di bahu jalan tanpa aturan dan beban retribusi.
“Kami bisa mati pelan-pelan kalau begini terus..Kami taat aturan, bayar retribusi, tapi justru kami yang sepi,” ungkap Sriyani, salah satu pedagang ikan yang sudah lebih dari lima tahun berjualan di PIM, Selasa 15 April 2025.
Keberadaan pedagang liar kini tidak hanya di satu titik. Dari Jalan Christopel Mihing hingga DI Panjaitan, para pedagang dadakan ini menawarkan harga lebih murah, mudah diakses tanpa harus turun dari kendaraan, dan bebas biaya parkir.
Sriyani paham, kondisi ekonomi membuat masyarakat mencari harga termurah dan kemudahan, tapi ia juga mengingatkan bahwa ini bukan soal persaingan harga semata.
“Ini soal keadilan. Kami ikut aturan pemerintah, mereka tidak. Kami bersih-bersih los, bayar retribusi, dan tetap harus tersenyum ke pembeli walau kadang tak laku sama sekali,” ucapnya sambil menunjuk los-los yang kosong di sekelilingnya.
Ironisnya, banyak pedagang liar berdalih tak punya tempat berjualan. Padahal, dari 198 los di PIM, hampir 50 persen masih kosong dan siap diisi.
“Kami malah senang kalau mereka masuk ke sini. Lebih ramai, lebih hidup. Tapi jangan justru pilih jalan pintas yang merugikan kami,” imbuhnya.
Para pedagang mendesak pemerintah daerah segera bertindak. Mereka meminta perda yang jelas untuk menertibkan pedagang liar, bukan hanya janji-janji pasca Lebaran yang tak kunjung ditepati.
“Kalau terus dibiarkan, pasar ini mati. Dan yang rugi bukan cuma kami, tapi juga pemerintah daerah karena tak ada lagi pemasukan dari retribusi,” tegas Sriyani.
Ancaman untuk ikut turun ke jalan bukan lagi sekadar gertakan. Bagi mereka, ini soal bertahan hidup.
“Kalau harus berjualan di bahu jalan demi menyambung hidup, mungkin itu yang nanti kami pilih. Tapi sayang, kalau sampai harus sejauh itu baru kami didengar,”katanya.
PIM bukan sekadar bangunan pasar. Ia adalah simbol harapan, kerja keras, dan kejujuran. Namun tanpa keberpihakan dan tindakan nyata dari pemerintah, harapan itu bisa redup di tengah jalan yang makin ramai oleh para pedagang yang memilih jalur tanpa aturan.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post