Oleh: RAHMADI***
Paidi (41), adalah satu dari sekian banyak petani buah dan sayuran di Kabupaten Lamandau yang tetap giat bekerja di tengah wabah corona. Pria yang sehari-sehari bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) itu juga sebagai petani mandiri.
Kesehariannya beraktifitas dilahan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan seperti kangkung, kacang panjang, terong, tomat, semangka, melon dan lain sebagainya.
Ditengah pandemi Covid- 19 saat ini, Paidi mengaku tidak terpengaruh secara mental dan tetap semangat menjalankan aktifitasnya sebagai seorang penyuluh dan pelaku atau petani. Paidi juga mengatakan kepadanpetani binaanya agar tidak patah semangat dengan situasi pandemi Corona.
Selama ini, kata Paidi, yang menjadi kendala kami sebagai petani adalah pemasaran hasil pertanian jenis holtikultura yang dinilai belum memberikan kesejahteraan bagi petani sendiri.
“Salah satu kendala kami adalah penjualan hasil tani ke pedagang yang terlalu murah, dan tidak sebanding dengan harga di pasaran yang cukup tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, seorang petani terpaksa menjual dengan harga rendah ke pengepul ketika masa panen dengan alasan daripada tidak terjual.
“Misalnya sayuran kami jual dengan harga Rp.5000/ikat besar, padahal pedagang eceran dipasar menjual satu ikat kecil saja sudah Rp.5000, begitu juga hasil sayuran dan buah lainnya seperti itu, hasil untuk petani masih sangat kecil,” jelasnya.
Terkait dampak pandemi Covid- 19 untuk petani sayuran dan buah di Lamandau, Paidi membeberkan bahwa suplai hasil panen ke pasar menjdi terbatas.
“Pengiriman hasil panen terbatas saat ini, beda dengan sebelum adanya corona karena banyak pengecer atau tukang sayur yang tidak dapat berjualan ke peeusahaan-perusahaan,” imbuhnya.
Namun, kata dia lagi, untuk alat alsintan sperti cangkul, hand traktor dan lainnya tidak ada masalah karena selama ini difasilitasi oleh pemerintah melalui dinas pertanian setempat, hanya saja pupuk bersubsidi susah didapatkan.
“Untuk pupuk bersubsidi selama musim corona ini sulit kami dapatkan, terpaksa kami beli pupuk tanpa subsidi yang lebih mahal dan menambah modal petani,” ucapnya.
Kendala lain yang dihadapi seorang Paidi saat ini adalah curah hujan yang masih tinggi, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan membutuhkan perawatan dan pupuk yang lebih ekstra.
Sementara itu petani lain bernama Suharno juga berharap agar pemerintah dapat membantu mengenai penyupaian bibit, pupuk subsidi dan memperhatikan harga jual dari petani kepedagang yang sangat rendah sehingga kesejahteraan petani masih belum meningkat.
“Harapan kami sederhana saja, bibit dan pupuk bersubsidi mudah didapatkan dan harga jual hasil panen meningkat,” harapnya.
Diketahui, 8 petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan Paidi selaku PPL di desa Bumi Agung dan Kujan Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau saat ini terus membudidayakan berbagai jenis tanaman sayuran dan buah guna menjaga ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19.
(btg/matakalteng.com)




















Discussion about this post