SAMPIT – Semangat berbagi pada peringatan 10 Muharam kembali terasa di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis 25 Juni 2026. Ribuan warga berdatangan ke kawasan depan Wisata Ikon Jelawat untuk menikmati Bubur Asyura yang dibagikan secara cuma-cuma oleh Grup Burdah Al Banjari dan Dalaillunnisa Al Banjari.
Panitia pelaksana sekaligus pengurus Masjid Kota Almadinatul Mubarokah, Nana, mengatakan kegiatan tersebut menjadi tradisi tahunan yang terus dipertahankan sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.
“Alhamdulillah pada momen 10 Muharam ini kami kembali melaksanakan pembagian Bubur Asyura untuk berbagi kepada siapa saja yang lewat dan ingin menikmati,” ujar Nana, Kamis 25 Juni 2026.
Pembagian bubur dipusatkan di sekitar Masjid Kota Almadinatul Mubarokah, Jalan Iskandar. Sejak siang, warga datang membawa wadah masing-masing, mulai dari mangkuk, piring, kantong, toples hingga tempat berukuran besar.
Nana menyebutkan, panitia memasak Bubur Asyura menggunakan sekitar 150 kilogram beras. Bahan utama tersebut dipadukan dengan beragam sayuran serta bahan makanan lain yang menjadi ciri khas sajian tradisional tersebut.
“Kalau dimasak, berasnya sekitar 150 kilogram dan sayur-sayurannya ada 41 macam, kadang bisa lebih. Ada juga daging ayam sekitar 10 kilogram dan daging sapi,” jelasnya.
Keberadaan puluhan jenis bahan dalam Bubur Asyura bukan sekadar untuk menciptakan rasa yang khas. Menurut Nana, tradisi penggunaan 41 macam bahan telah diwariskan secara turun-temurun dan diyakini mengandung doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai hal buruk.
“Orang-orang dulu sebelum 10 Muharam selalu membuat Bubur Asyura yang katanya berisi 41 macam bahan. Maknanya semoga segala bala dan hal-hal yang tidak baik bisa dijauhkan dari kita semua,” katanya.
Panitia tidak membatasi jumlah bubur yang dapat dibawa pulang warga. Siapa pun yang datang dipersilakan menerima pembagian bubur sesuai wadah yang dibawa.
“Yang datang ada yang bawa mangkuk, piring, kantong, sampai wadah besar. Kami bagikan saja, siapa yang datang dan membawa tempat,” ungkapnya.
Tahun ini, Bubur Asyura yang disiapkan diperkirakan mencapai lebih dari 5.000 porsi. Seluruh biaya kegiatan berasal dari swadaya serta dana pribadi anggota Grup Burdah Al Banjari dan Dalaillunnisa Al Banjari.
“Dananya dari pribadi. Yang jelas kami berharap kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap tahun. Alhamdulillah sudah beberapa tahun berjalan dan selalu mendapat sambutan baik dari masyarakat,” tuturnya.
Tradisi Bubur Asyura di Sampit pun tidak hanya menjadi bagian dari peringatan 10 Muharam, tetapi juga ruang untuk menjaga silaturahmi, menguatkan kepedulian, dan merawat kebiasaan berbagi di tengah masyarakat.
(dia/matakalteng)

















Discussion about this post