SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) terus mencari formula baru untuk menghidupkan kembali pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang belakangan mulai lesu di tengah persaingan bisnis dan perubahan pola belanja masyarakat ke sistem online.
Kepala DKUKMPP Kotim, Muslih mengakui saat ini pihaknya masih menghadapi tantangan besar dalam membina UMKM agar mampu bertahan dan berkembang di tengah kondisi ekonomi serta perubahan perilaku pasar. “Kami masih mencari formula bagaimana UMKM di Kabupaten Kotim ini bisa hidup kembali. Belakangan kita melihat ada beberapa usaha kafe dan pelaku usaha kecil yang mulai tutup. Ini tentu menjadi perhatian kami,” kata Muslih, Sabtu 16 Mei 2026.
Menurutnya, pengembangan UMKM tidak bisa hanya dilakukan oleh satu organisasi perangkat daerah (OPD), melainkan harus melibatkan banyak pihak agar program yang dijalankan benar-benar efektif. “UMKM ini tidak bisa ditangani oleh satu OPD saja. Harus ada kolaborasi dengan OPD lain dan berbagai pihak supaya bisa berkembang,” ujarnya.
Muslih mengatakan salah satu langkah yang sedang disiapkan adalah menghadirkan berbagai kegiatan dan event untuk menarik masyarakat sekaligus membantu meningkatkan perputaran ekonomi pelaku UMKM lokal. “Kami sedang menyiapkan beberapa event atau hiburan kecil yang nantinya bisa menghadirkan UMKM. Saat ini formulanya masih kami susun dan terus kami kolaborasikan,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi sentra UMKM di Kotim yang menurutnya perlu terus dibenahi agar mampu menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Bahkan pihaknya terus mendorong pengelola sentra UMKM untuk melakukan pembenahan. “Kami mendorong pengelola sentra UMKM untuk terus berbenah karena nantinya itu bisa menjadi salah satu tolok ukur kebangkitan UMKM kita,” ucapnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Muslih menilai pelaku UMKM saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan konvensional. Karena itu, DKUKMPP mulai menjajaki kerja sama dengan pihak ojek online untuk mendukung pemasaran produk UMKM secara digital. “Kami sudah mulai menjajaki kerja sama dengan kawan-kawan ojek online. Sekarang pasar mulai berubah, masyarakat lebih banyak berbelanja secara online. Mau tidak mau UMKM kita juga harus mengikuti perkembangan teknologi,” jelasnya.
Menurutnya, kerja sama tersebut nantinya diharapkan mampu mendekatkan pedagang UMKM dengan konsumen melalui platform digital sehingga penjualan dapat meningkat. “Kami ingin membangun pola kemitraan bersama ojek online agar pedagang UMKM lebih mudah menjangkau masyarakat. Formulanya masih kami siapkan,” katanya.
Muslih menyebut di Kotim sebenarnya sudah ada pelaku usaha yang berhasil berkembang melalui sistem pemasaran digital dan dapat menjadi contoh bagi UMKM lainnya. “Contohnya usaha Batilah yang bisnisnya lebih banyak bergerak secara online. Itu bisa menjadi percontohan bagi UMKM lain bagaimana mendekatkan produk dengan konsumen,” tuturnya.
Selain pemasaran digital, Muslih menilai kegiatan bazar masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk menggerakkan UMKM lokal. Namun belakangan pelaksanaan bazar mulai berkurang karena keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi. “Kalau bazar itu memang sangat berdampak terhadap perputaran ekonomi UMKM. Dengan adanya bazar, pengunjung lebih mudah berkumpul di satu titik sehingga penjualan meningkat,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah daerah tetap berupaya menghadirkan kegiatan untuk UMKM dengan menggandeng pihak ketiga. “Kami sudah mencoba menggandeng pihak ketiga, salah satunya perusahaan swasta, supaya tetap ada kegiatan walaupun skalanya kecil. Kalau hanya berharap dana pemerintah saat ini memang cukup sulit karena ada efisiensi anggaran,” jelasnya.
Terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap pelaku usaha kecil, Muslih mengaku hingga saat ini belum ada laporan signifikan yang masuk ke dinasnya. Namun ia menilai persaingan bisnis dan kurangnya inovasi menjadi tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha saat ini. “Kalau dampak BBM sejauh ini belum ada laporan besar. Tapi memang persaingan bisnis sekarang sangat ketat. Kadang di awal usaha ramai, namun perlahan mulai sepi. Bisa jadi karena inovasi pengelolanya kurang atau faktor persaingan usaha,” tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post